pertamina.com
Bulan Oktober 2006 lalu, saya diundang dan sekaligus diminta oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) untuk menjadi moderator dalam diskusi ilmiah yang membahas masalah semburan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur, atau lebih dikenal sebagai Lusi, berkaitan dengan pemboran eksplorasi sumur Banjar Panji (BJP) — 1.
Temu ilmiah yang digelar bertepatan dengan bulan puasa dan merupakan hari keseratus tiga puluh lima (135) terjadinya musibah semburan lumpur yang tidak terkendali itu, diadakan dalam rangka menjawab berbagai pertanyaan yang beredar di masyarakat, khususnya berkaitan dengan penyebab dan langkah-langkah apa yang dapat diambil untuk mengendalikan terjadinya bencana yang lebih dasyat akibat semburan lumpur Sidoarjo ini.
Hadir beberapa pakar kebumian dan ahli teknik pemboran sebagai narasumber, antara lain Dr. Edy Sunardi (ahli geologi, IAGI) , Bambang P. Istadi MSc (ahli geologi dan operasi pemboran dari Lapindo Brantas), serta Dr. Ing. Rudy Rubiandini (ahli teknik pemboran ITB), disamping para praktisi dan ahli kebumian lainnya yang hadir sebagai peserta temu ilmiah tersebut.
Diskusi berjalan cukup seru, mengingat banyak sekali argumen yang berbeda, dalam menyikapi munculnya semburan liar, berupa lumpur panas tersebut, dengan debit yang sangat besar, dimana saat itu telah mencapai 120 ribu M3 perhari. Alotnya diskusi bisa difahami, mengingat materi yang dibahas adalah kondisi bawah permukaan, sehingga banyaknya pemikiran dan ide yang berbeda tentang penyebab dan cara penanggulangan-nya, sangat memungkinkan terjadi, tergan-tung dari data dan perspektif yang diguna-kan saat itu. Namun demikian, paling tidak, ada empat pemikiran atau hipotesa yang dapat diterima secara ilmiah, untuk men-jelaskan fenomena yang baru pertama terjadi di negeri kita ini.
Sekilas Proses Pemboran Sumur Eksplorasi BJP-1
Sumur BJP-1 mulai ditajak tanggal 8 Maret 2006 dan telah melewati beberapa kedalaman trayek pemboran dengan pema-sangan selubung (casing), mulai dari selubung 20” pada kedalaman 1,195 Ft, selubung 16” di 2,304 Ft, dan selubung 13 3/8” dipasang pada kedalaman 3,595 Ft.
Pada tanggal 27 Mei 2006, memasuki pemboran trayek lubang 12 º” pada kedalam-an 9,297 Ft terjadi ”loss circulation” sekitar pukul 11.00 WIB, siang hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemboran sudah menembus porous reservoir, yang mengaki-batkan lumpur pemboran, yang berfungsi sebagai penahan tekanan dari formasi dan juga sebagai pelumas dan juga sebagai media pengangkat serbuk pemboran (cuttings), hilang masuk dalam formasi. Terjadinya peristiwa loss circulation ini juga bertepatan dengan musibah gempa Yogyakarta dengan kekuatan 6.5 skala Richter, yang terjadi pada pagi harinya, sekitar pukul 05.50 Wib, yang efeknya juga terasa sampai daerah Jawa Timur.
Sesuai SOP, untuk mengatasi masalah loss circulation ini, biasanya dilakukan penanggulangan dengan memasukan material penyumbat (loss circulation material) yang selalu tersedia di lapangan. Setelah masalah loss circulation teratasi, dan lubang dalam kondisi stabil, kemudian rangkaian pipa pemboran dicabut, untuk rencana selanjutnya melakukan penyumbatan pada daerah formasi yang porous dengan semen. Namun proses pencabutan rangkaian pipa bor baru sampai kedalaman 4,241 Ft, terjadi aliran balik (kick), yang dapat mengakibat-kan bahaya blow out, apabila terlambat diatasi dan diikuti dengan keluarnya gas hidrokarbon yang tidak terkendali. Makanya untuk pencegahan kondisi tersebut, dilakukan penutupan BOP (Blow Out Preventer).
Setelah kondisi sumur teratasi, langkah kemudian adalah melanjutkan pencabutan rangkaian pipa bor. Namun sebelum langkah itu dilakukan, rangkaian pipa dalam kondisi terjepit, tidak dapat digerakan. Kondisi seperti ini biasa terjadi, karena pada saat terjadi loss circulation, stabilitas dinding lubang pemboran terganggu, tidak ada yang menahan, sehingga menyebabkan formasi collapse atau runtuh.
Kemudian dilakukan usaha untuk membe-baskan jepitan, namun pada tanggal 29 Mei 2006 pagi hari, tiba-tiba ada laporan masya-rakat sekitar yang menginformasikan bahwa telah terjadi semburan lumpur di sekitar radius 150 — 200 meter dari lokasi sumur. Dari peris-tiwa inilah dimulainya bencana semburan liar Lusi.
Hipotesa Penyebab Semburan Lumpur Sidoarjo
Berbagai hipotesa telah disampaikan oleh para pakar kebumian dan ahli teknik pemboran dalam upaya menjelaskan penyebab dari sem-buran Lusi ini, meskipun belum ada kesimpulan yang konklusif. Sejauh ini ada empat hipotesa yang banyak dikemukakan para ahli untuk menerangkan fenomena semburan lumpur tersebut, yaitu : (1) Semburan terjadi akibat pemboran sumur Eksplorasi BJP-1; (2) Sem-buran lumpur berkaitan dengan aktivitas gem-pa bumi; (3) Semburan lumpur berkaitan dengan aktivitas mud volcano (lumpur gunung api purba); dan (4) Semburan lumpur bera-sosiasi dengan adanya aktivitas panas bumi (geothermal).
Akibat Pemboran Sumur Eksplorasi BJP-1
Pendapat ini paling banyak diyakini banyak orang dan sudah sangat tersosialisasi ke masya-rakat, karena memang, secara kasat mata, munculnya semburan lumpur ini berdekatan sekali dengan lokasi pemboran sumur eks-plorasi BJP-1. Menurut hipotesa ini, terjadinya semburan Lusi akibat dari terjadinya loss circulation dan diikuti dengan kick, kemudian dilakukan penanggulangan masalah kick ini dengan menutup BOP. Tekanan yang ditimbul-kan oleh adanya kick ini, dimana terjadi aliran balik dari gas atau fluida ke permukaan, me-nyebabkan terjadinya rekahan-rekahan yang berada di sekitar lokasi pemboran.
Pertanyaannya adalah dari mana datangnya lumpur yang sedemikian besar volumenya ini, dimana pada waktu itu total volume lumpur panas yang keluar melebihi angka 1 juta meter kubik, padahal total volume lumpur pemboran tidak sampai 10 ribu meter kubik.
Akibat Gempa Bumi di Yogyakarta dan Sekitarnya
Gempa yang diakibatkan oleh aktifitas tektonik ini, berupa terjadinya pelepasan energi sangat besar dari masa batuan yang mengalami tekanan, dapat menyebabkan terjadinya pa-tahan dan rekahan dari masa batuan tersebut.
Proses pelepasan energi sepanjang bidang patahan pada batuan akan menghasilkan gelombang yang akan merambat dalam media batuan dan menimbulkan berbagai proses deformasi, yang salah satunya mengakibatkan terjadinya peristiwa likuifaksi, yaitu masa batuan seperti terperas dan fluida yang berada diantara butiran batuan tersebut keluar ber-samaan dengan partikel-partikel tanah yang halus menjadi seperti bubur tanah (liquid)
Akibat Proses Kegiatan Mud Volcano
Mud volcano merupakan istilah dalam ilmu geologi yang bersifat genetic (menerangkan proses terjadinya), umumnya digunakan untuk memperlihatkan kenampakan yang menyeru-pai erupsi permukaan dari lumpur dan air atau batu lempung, yang terkadang diikuti dengan keluarnya gas methane (CH4).
Pada umumnya mud volcano ini cenderung untuk membentuk lumpur padatan atau lem-pung di sekitar semburan, yang biasanya mem-bentuk kerucut, kobah (dome), atau conical, akibat tekanan tinggi dan keluar ke permukaan melalui rekahan atau fracture.
Fenomena ini banyak dijumpai di sekitar daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti halnya terjadi di daerah Purwodadi, yang dikenal sebagai Bleduk Kuwu atau yang terjadi juga baru-baru ini di Madura, berupa muncul-nya semburan lumpur panas, yang identik dengan fenomena mud volcano.
Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa semburan lumpur panas tersebut diikuti juga dengan keluarnya gas methane (CH4), yang semakin menguatkan akan hipotesa ini.
Akibat Adanya Aktivitas Panas Bumi
Peranan proses panas bumi atau geothermal merupakan hipotesa keempat, yang merupakan pemikiran dari para ahli kebumiaan dari hasil diskusi ilmiah tersebut. Diperkirakan daerah sekitar lokasi sumur eksplorasi BJP-1 merupa-kan daerah komplek volkanik (gunung api), salah satunya dekat dengan Gunung Welirang, yang dibawah permukaannya terdapat aktifitas magmatis dan merupakan sumber panas bumi.
Adanya reservoir yang terisi air dan menga-lami pemanasan akibat aktifitas magmatis akan menghasilkan sumber panas bumi yang sangat potensial mempunyai tekanan dan temperatur sangat tinggi.
Keberadaan zona sesar atau patahan di sekitar lokasi sumur BJP-1 yang dikenal sebagai Sesar Watukosek, yang ditafsirkan mengalami pengaktifan kembali akibat adanya gempa bumi Yogyakarta, merupakan jalan keluarnya dari fluida panas yang bercampur lumpur ke permukaan.
Hipotesa Mana yang Lebih Mendekati Kebenaran ?
Untuk mencari sebuah jawaban yang lebih akurat maka dibutuhkan studi yang lebih komprehensif, yang dapat mengintegrasikan seluruh data, baik melalui pendekatan geologi regional, maupun hasil dari proses pemboran dan tentunya duduk bersama diantara seluruh bidang keahlian untuk berdiskusi dalam menjawab pertanyaan di sekitar penyebab munculnya fenomena Lusi ini.
Ahli Geologi regional, seismic interpreter, geochemist, sedimentologist, petrologist, volcanolo-gist, drilling engineer, ahli kegempaan dan bidang lainnya diperlukan untuk saling bertukar pikir-an dalam rangka memecahkan permasalahan tersebut.
Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) ter-nyata cukup responsif dengan melakukan kerja-sama dan penelitian yang terkait dengan masa-lah ini, seperti BPPT, LIPI dan Badan Geologi Nasional (BGN) dengan mengadakan Interna-tional Geological Workshop yang diadakan pada tanggal 20-21 Februari 2007, bertempat di Ge-dung BPPT, Jakarta Pusat.
Temu ilmiah ini telah menghadirkan Prof. Dr. James Mori (Kyoto University), Dr. Kat-suhiro Fujisaki (The Geo-pollution Control Agency), Prof.Dr. Hisao Kumai dan H. Yama-moto (Osaka City University, Jepang). Tidak ketinggalan para ahli kebumian dan teknik pemboran yang berasal dari asosiasi profesi, lembaga penelitian dan kalangan perguruan tinggi di Indonesia. Dr. Gregorii Akhmanov (Moscow State University) juga hadir mera-maikan workshop bersekala international ini.
Prof. James Mori menyebutkan dua hal, sehubungan dengan terjadinya Lusi, seperti yang disampaikan dalam pidato kuncinya pada tanggal 21 Februari 2007 lalu bahwa , ada dua aspek tentang Lusi ini. Aspek pertama ialah cause (penyebab) dan aspek kedua ialah trigger (pemicu). “Lusi is natural cause, so that Lusi is natural disaster. Trigger is difficult, can be earth-quake, can be drilling, can be combination of both. I don’t know”.
Demikian pula pembicara dalam technical session lainnya, seperti Prof. Hisao Kumai dan Yamamoto dari Osaka University berpendapat bahwa , “Earthquake is the major trigger on mud volcanism at Sidoarjo, East Java”.
Begitu pula Prof. Sukendar Asikin, ahli tektonik dan geologi struktur dari ITB berpendapat bahwa Lusi akibat tektonik, yang pada keesokan paginya dalam Topik Pagi ANTV 22 Februari 2007 dicuplik dengan tema “LUSI berhubungan dengan gejala tektonik”
Meskipun beberapa kali dilakukan temu ilmiah yang mendiskusikan masalah Lusi ini, namun tetap tidak ada kesimpulan akhir yang didapat, karena banyaknya koinsiden atau peristiwa yang berkaitan dengan fenomena ini.
Semua yang hadir di workshop tentu me-nyimak juga pernyataan Dr. Herry Harjono, Deputy LIPI, bahwa ada tiga follow-up workshop ini : (1) Penyebab : biarlah para ahli G&G terus-menerus mencari jawabannya; (2) Susun peta hazard untuk subsidence berda-sarkan data GPS (Global Positioning System) dan remote sensing; (3) Teliti sistem hidrogeologi Lusi untuk mencari jawaban apakah ini trapped water yang bisa habis suatu hari nanti, atau recharge water yang akan terus-menerus terisi, pengetahuan ini akan menentukan apakah Lusi akan berhenti atau malah akan berlangsung terus.
Seperti dalam butir (1) di atas, work-shop sama sekali tak menyimpulkan apa penyebab Lusi ini, apakah drilling, apakah gempa, apakah keduanya. Biarlah para ahli G&G terus mencari jawaban untuk lesson learned ke depan. Sulit memang menentu-kan penyebab ini. Penyebab 100 % karena drilling pun banyak kelemahannya, seperti dalam presentasinya Dr. Doddy Nawang-sidi, (ahli drilling ITB).
Menurut Awang Harun (BP Migas), yang juga sangat intensif melakukan studi berkaitan dengan fenomena Lusi ini ber-pendapat bahwa sebagai seorang geologist yang biasa berhubungan dengan ruang dan waktu, semua kejadian yang bersamaan harus dilihat sebagai kemungkinan peny-ebab. Pemboran sumur Banjar Panji, gempa bumi Yogyakarta, pengaktifan Gunung Se-meru dan Merapi, serta kejadian lainnya. “Saya tidak akan menyingkirkan berbagai kemungkinan tersebut,” demikian ia me-nambahkan.
Setiap orang punya pendapat, dan saya pun punya pendapat yang siap diargumen-tasikan. Tetapi buat apa? Jadi, sekarang ini lebih baik kita memperhatikan dulu yang di permukaan, yang langsung akan berhu-bungan dengan keselamatan hidup manu-sia.•••(Nanang Abdul Manaf-Direktorat Hulu)