| Written by Jalu, Yepa / “PR” | |
|
Tuan KS yang sudah memasuki usia kepala tujuh alias tujuh puluhan mengaku sangat khawatir kehilangan cinta, perhatian, bahkan diri istri keduanya yang relatif masih muda. Gara-garanya bukan sang istri telanjur melirik pria lain, tapi karena ia tidak lagi “sejantan” dulu yang katanya sanggup melakukan hubungan intim 9 kali dalam sehari!. Sekarang KS mengaku paling banter hanya mampu melakukannya sebulan dua kali. Itu pun sering diikuti dengan berbagai keluhan sesudahnya. Yah sakit pinggang lah, capek lah dll. “Padahal katanya di usia tiga puluhan seorang wanita sedang hot-hot-nya dalam berhubungan intim. Saat ini saya tidak bisa mengimbangi ‘hasrat’ istri saya itu,” keluh pensiunan pegawai negeri itu. Akibatnya KS sering merasa sangat cemburu jika istrinya pergi ke luar rumah. Ia juga langsung emosi jika sang istri melakukan kesalahan yang kadang-kadang sebenarnya bukan sesuatu yang prinsip. “Saya juga tidak mengerti mengapa kok sekarang saya seperti itu. Apakah karena usia yang sudah semakin tua ?. Gejala-gejala yang saya rasakan persis dengan kondisi istri pertama saya ketika memasuki masa menopause. Apakah memang pria juga mengalami masa seperti itu ?” tanya KS kepada sahabatnya. Menanggapi pertanyanyan Tuan KS, Direktur RSU Cibabat, Cimahi Dr. H. Hanny Ronosulistyo,SpOG, MM menyatakan selama bertahun-tahun masyarakat memandang menopause hanya terjadi pada wanita. Ternyata rasa lelah, muka terasa panas, kemandulan, ketidak seimbangan psikis yang merupakan tanda tanda menopause wanita dilaporkan juga terjadi pada pria. Selama ini tanda-tanda seperti ini hanya dianggap sebagai tanda penuaan dan tidak terlaporkan. Belakangan ini semakin banyak pria mengeluhkan gejala-gejala ini, sehingga makin banyak diteliti dan dilaporkan bahwa ternyata “menopause pria” tersebut memang ada. Meskipun demikian kontroversi mengenai menopause pria, atau banyak yang menyebutnya dengan istilah andropause masih terus berlanjut. Lebih lanjut Hanny menjelaskan proses reproduksi pria sangat berbeda dengan wanita. Alat reproduksi pria tidak berhenti seperti pada wanita. Buktinya pria berusia sangat sepuh juga tetap bisa menghasilkan sperma yang baik dan mempunyai keturunan. Di Afrika kepala kepala suku dilaporkan mempunyai banyak istri, dan mempunyai banyak anak walaupun pada usia sangat tua. Tidak dilaporkan adanya penuaan pada proses pembentukan spermatozoa. Dan dilaporkan pria masih dapat melakukan “kewajiban seksual” dengan baik pada usia di atas 60 tahun, seperti waktu mereka berusia 20 tahunan. Suatu proses alamiah berlaku pada seluruh sel di dalam tubuh manusia. Kesempurnaan sel-sel tubuh manusia meningkat dari masa remaja sampai menjelang usia 30 tahun. Setelah usia tersebut semua kegiatan faal tubuh akan menurun secara bertahap. Hal ini sangat mudah kita lihat pada kelompok manusia yang sangat menggunakan kemampuan tubuhnya, misalnya atlet olah raga. Sebaliknya pada usia tersebut secara ekonomi orang sudah mulai menapak ke daerah kemapanan, peningkatan kinerja dan intelektualitas disertai keberhasilan-keberhasilan. Hal itu menyebabkan pria tidak mau mengakui “penurunan ” alamiah di sektor fisik. Banyak di antara mereka berusaha menutupi “kelemahan”-nya dengan berbuat seolah-olah mereka masih perkasa seperti waktu muda, dengan cara melakukan berbagai aktivitas kawula muda. Misalnya bersepeda motor besar. Dengan bergaya ugal-ugalan seperti anak muda, mereka dengan kendaraannya yang berharga ratusan juta (yang tidak akan mungkin terjangkau oleh kawula muda kebanyakan ) bergaya “hell angels” menutupi kenyataan alamiah tubuhnya. Penurunan di bidang seksual lebih banyak disebabkan karena penurunan fungsi sel seluruh tubuh secara keseluruhan. Untuk menutupi kenyataan ini, maka banyak pria-pria “mapan” bergaya anak muda, dalam arti berpakaian, bergaul (diskotek, bahasa, gaya) bahkan dengan berpacaran dengan ABG (anak baru gede-red). Mereka berusaha memenangkan kompetisi dengan pria muda dengan mengandalkan kelebihannya di bidang ekonomi. Masalah gengsi menjadi kembali penting seperti masa remajanya, bahkan ada seorang kawan yang berpoligami untuk menutupi “keperkasaannya” di masa muda, padahal ternyata yang bersangkutan sudah terkena penyakit kencing manis dan impotensi. Jadi kita dapat mengambil kesimpulan sederhana, bahwa proses pubertas kedua terjadi karena adanya denial atau penolakan psikis terhadap hukum-hukum alam dengan mengemukakan keberhasilan di bidang lainnya. Proses selanjutnya dari pubertas kedua ini adalah andropause. Proses ini terjadi sangat berlawanan secara psikologis. Kalau yang pertama tidak mau mengakui kelemahan fisiknya dengan berbuat berlawanan arah, maka pada menopouse pria justru pria mengedepankan kelemahan dan gejala-gejala fisiknya untuk menjadi alasan dari segala kegagalannya. Keduanya merupakan pertanda ketidakmapanan kepribadian yang bersangkutan. Istilah andropause asal mulanya merupakan padanan dari menopause pada wanita. Dengan bertambahnya umur seorang pria, dapat timbul sekumpulan gejala yang dihubungkan dengan menurunnya kadar hormon testosteron, oleh karena itu dinamakan andro (pria)-pause. Sebenarnya istilah ini tidak terlalu tepat karena walaupun telah berusia lanjut, produksi spermatozoa terus berlangsung walaupun dalam jumlah yang lebih sedikit. Jadi tidak terjadi penghentian (pause) dalam arti yang sesungguhnya. Selain itu proses menurunnya kadar testosteron dan munculnya gejala andropause berlangsung demikian perlahan, dibandingkan menopause, sehingga sering tidak dikenali. Terlepas dari tidak tepatnya istilah andropause, gejala itu memang ada dan memerlukan perhatian untuk ditangani. Penelitian di negara-negara barat menunjukkan bahwa 10-15% pria mulai mengalami andropause pada usia 60 tahun, sedangkan 54% pria menunjukkan gejala andropause pada kelompok umur 60-90 tahun. Dengan bertambahnya angka harapan hidup, maka jumlah penderita gejala andropause akan meningkat dengan pesat. Datangnya andropause sangat dipengaruhi oleh hormonal seseorang. Boleh jadi di usia puncak karier atau masa kemapanan muncul, sebut saja usia 45 tahun. Dan biasanya akan sangat mengganggu, karena laki-laki biasanya bekerja. Di saat muncul gejala-gejalanya akan timbul rasa kehawatiran. Menurut psikolog klinis, Dr. Elmira N. Sumintardja, seorang penderita tidak akan mengenali gejala yang sesungguhnya bahwa ia sedang memasuki masa andropause. Sehingga jalan keluar untuk mengatasi keluhan fisik tersebut penderita biasanya mengonsumsi suplemen. Padahal reaksi suplemen hanya efek sesaat, karena gejala andropause akan muncul lagi sepanjang periode andropause. “Pemakaian suplemen atau obat-obatan pemicu aktivitas yang menjadi konsumsi rutin justru bisa membahayakan. Misalnya obat kuat atau suplemen untuk menambah vitalitas kerja,” kata Elmira. Lebih lanjut Elmira menjelaskan, bila usia sudah menjelang andropause maka harus waspada ketika muncul gejala emosional yang tiba-tiba dan tidak biasa. Misalnya cepat merasa sedih atau marah yang tak bisa dikendalikan, padahal itu bukan karakter yang biasa muncul. Munculnya masalah-masalah kelainan psikologis, sekali lagi ditekankan bukan karena dia dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya, tapi oleh biologis yang berubah. “Dan memang akan lebih rentan bila kondisi psikologis juga sedang buruk,” tandasnya. Lalu bagaimana sebenarnya gejala-gejala andropause itu ? Menurut Elmira, beberapa gejala dapat timbul sekaligus dengan derajat keparahan yang berbeda-beda. Seperti halnya menopause, gejala ini lebih cenderung faali, namun karena penderita tak menyadari sebagai gejala datangnya andropause, berakibat pada beban psikologis yang mengganggu pikirannya. “Penderita akan bertanya-tanya, kenapa kok fisik saya berubah. Apakah saya mulai penyakitan, jantung, ginjal, atau gejala-gejala penyakit lain ?. Karena tidak dicarikan solusi sesuai dengan sumber sakitnya, akhirnya berdampak pada tekanan psikologis,” imbuhnya. Selain itu, menurut Elmira, dapat terjadi perubahan emosional seperti mudah marah (uring-uringan), dan depresi. Dan dapat pula diikuti dengan menurunnya kemampuan intelektual, sakit kepala atau pusing, rasa gerah akibat suhu tubuh naik tiba-tiba dalam waktu singkat dan mengeluarkan keringat berlebihan, serta mudah lelah. Ini disebabkan menurunnya kekuatan otot, disertai dengan nyeri otot atau nyeri pinggang. Testosteron berpengaruh terhadap perkembangan otot sehingga dengan menurunnya kadar testosteron massa otot akan mengecil dan kekuatannya akan berkurang. “Kadang-kadang gejala-gejala itu menjadi ciri khas selama kurun 5-10 tahun sebagai masa berlangsungnya andropause atau masa gonjang-ganjing. Hal ini akan menjengkelkan bila tidak dikenali sebagai gejala andropause, jadi akan berdampak pada psikologis,” kata Elmira. Sementara itu dalam suatu kesempatan seminar dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.OG mengungkapkan, saat ini sudah dikembangkan suatu bentuk terapi yang efektif dan tidak menimbulkan rasa sakit bagi para pria yang mengalami gejala andropause. Terapi ini dikenal dengan nama Hormon Replacement Therapy, yakni mengganti hormon yang hilang. Untuk mengetahui dengan pasti hormon apa yang perlu ditambahkan, sebelum melaksanakan terapi perlu dilakukan tes laboratorium terlebih dulu. Testosteron adalah hormon yang paling berperan dalam terjadinya andropause. Kadarnya yang rendah dalam darah sangat memengaruhi kemampuan seksual serta vitalitas pria. Pemberian testosteron dapat dilakukan melalui oral (pil, kapsul), suntikan, krim untuk pemakaian, patch (tempelan di kulit), dan dalam bentuk permen yang diletakkan di bawah lidah. Obat oral, dalam bentuk pil atau kapsul ini akan melewati metabolisme di hati sehingga kadarnya dalam darah tidak mencukupi. Yang biasa digunakan adalah Testosteron Undecanoat, yaitu testosteron ester yang tidak membahayakan hati dan efektif dalam meningkatkan kadar testosteron sampai kadar normalnya. Suntikan (injeksi). Biasanya masa kerjanya lama (long acting). Kadar maksimum dalam darah dicapai pada hari ketiga setelah penyuntikan, dan akan hilang secara berangsur-angsur setelah 10 sampai 14 hari. Injeksi ini, walaupun agak sakit penyuntikannya, telah terbukti meningkatkan gairah seks, fungsi seksual, tenaga, kekuatan tulang, dan mood pada pria yang mengalami kekurangan androgen. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian pada pria yang mendapatkan terapi testosteron adalah efek samping pada hati, keadaan lemak darah dan penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), prostat, gangguan tidur, dan perilaku sosial serta emosional. Menurunnya gairah seksual dan kemampuan ereksi, menurut Boyke sering dianggap sebagai konsekuensi logis dari usia lanjut. Hal ini tidak seluruhnya benar. Gairah seksual memang dapat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan maupun budaya. Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan saat berhentinya aktivitas seksual dan tampaknya hal ini dipengaruhi oleh keterbukaan masyarakat terhadap masalah seksual. Makin terbuka suatu masyarakat, makin lambat berhentinya aktivitas seksual. |
Pria pun Bisa “Menopause”
July 30, 2008 by Fitriono