Feeds:
Posts
Comments

gak usah panik, inilah sebenarnya bakteri yangmembuat geger banyak orang dan telah mencemari susu formula di Amerika dan Indonesia

bakteri tersebut akan mati pada suhu penyajian 70 derajat Celcius

Background Information on Enterobacter Sakazakii (E. sakazakii)

ISDI takes very seriously the reports identifying powdered infant formula as a source and vehicle for E. sakazakii(1) infections. Reported cases of E. sakazakii infection in which powdered infant formula was identified as a source are uncommon and have occurred mainly in hospitalised, pre-term and very low-birth weight infants; nevertheless they were serious episodes.

About E. sakazakii

  • E. sakazakii is a vegetative microorganism belonging to the family of the Enterobacteriaceae. It is an opportunistic pathogen widely found in the environment.
  • During many years the only published data on the isolation of E. sakazakii were cases of neonatal meningitis or necrotizing enterocolitis related to powdered infant formulae. This led to the establishment of a causal link. In some later cases the organism was isolated on utensils such as mixers used in bottle kitchens. Even though in some cases E. sakazakii could not be isolated from the infant formulae, a causal relationship was assumed.
  • It is, however, only very recently that information on the widespread occurrence of E. sakazakii has become available. Recent publications have demonstrated that this microorganism can be found in a wide variety of foods, water and environments including homes and hospitals.
  • The E. sakazakii has also been isolated in hospitals from clinical samples taken from adults. A recent article reported the presence of E. sakazakii in mother’s milk stored in a milk bank.
  • As a widespread bacteria, E. sakazakii can also be found in infant food manufacturing environments and this is usually the source of its possible presence in the infant formula powder. In general, the very low level of E. sakazakii in powdered infant formula, or contamination through preparation equipment does not result in adverse effects unless the growth of E. sakazakii bacteria is allowed through improper handling and storage.
  • Contrary to common belief, E. sakazakii is a frequently found, ubiquitous microorganism. Further research in this field is continuing and is expected to provide additional information on the widespread distribution of this organism and contribute to the better understanding on exposure.

How does E. sakazakii behave? Is it heat-resistant?

  • E. sakazakii grows very rapidly in reconstituted infant formulae kept at room temperature. It is particularly well adapted to growth at temperatures around 37 – 44°C.
  • Certain strains show an increased tolerance and resistance to temperatures around 50 – 60°C. In different publications, this characteristic has been referred to as “thermo-tolerance”, and has lead to the misunderstanding that this microorganism is heat-resistant.
  • As shown in different publications, E. sakazakii is not heat-resistant and is readily killed at temperatures above 60°C, as applied in industrial processes, e.g. pasteurisation. This fact is acknowledged by governmental agencies such as the US-FDA and is not a point of debate among experts.

The vast majority of E. sakazakii infections occur in hospital neonatal intensive care units. Risk of infection arises when reconstituted formula is kept at room temperature (or warmer) for prolonged periods of time. Improved training and hygiene in hospitals are critically important in avoiding E. sakazakii outbreaks.

  • Health professionals should receive training and effective risk management guidelines on optimum hygiene practices for handling, storage and preparation of formula. Following the comprehensive instructions on manufacturers’ labels best prevents the presence and growth of pathogenic bacteria in formula.
  • Hospitals must also ensure good hygiene in their preparation areas, including an anti-bacterial treatment before preparing the formula, and a concerted effort to minimize the time between preparation and consumption.
  • ISDI strongly supports the use of freshly reconstituted infant formula as a means to eliminate these problems.
  • ISDI questions the WHO-FAO report’s recommendation to use boiling water in the preparation of infant formula and strongly discourages this practice. Water at 100°C can scald an infant and lead to nutritional damage.
  • Breastfeeding should be recommended as the ideal to mothers in all instances. Those who cannot, or choose not to, breastfeed should receive accurate information and education about good hygiene practices concerning the preparation and use of formula. Mothers should be taught to correctly prepare and use formula before leaving hospital, when necessary.

Infant food manufacturers take extensive measures at the factory level to ensure the highest level of product quality and safety.

· ·ISDI member companies strictly comply with national legislation and international recommendations based on scientific expertise to provide safe and nutritionally adapted infant food.

· Along with their normal strict hygiene standards, manufacturers take additional actions to minimise possible contamination of powder products, including with Enterobacteriacea.

· These include a series of rigorous processes that prevent contamination from production to the point of purchase by the consumer. For example, manufacturers:

o Closely monitor ingredients, especially those added after the final step of heat-processing;

o Take extensive measures to minimise Enterobacteriaceae or coliforms in the manufacturing environment to prevent post-process contamination;

o Train personnel to ensure that hygiene control measures are understood and closely followed; and

o Test finished products to confirm the effectiveness of these procedures.

taken from : http://www.babymilk.com/safety/esakazakii_backgroun

Jakarta – Penetapan tarif pungut sebesar Rp 250 hingga Rp 350 untuk layanan pesan singkat (short message service/SMS) lintas operator di Indonesia dinilai sudah murah oleh sejumlah kalangan eksekutif telekomunikasi. Bagaimana menurut Anda?

Masalah tarif SMS lintas operator kini jadi perbincangan hangat di industri telekomunikasi karena Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sedang menyelidiki praktik kartel yang dilakukan operator seluler dan Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI).

Berdasarkan data yang dimilikinya, KPPU menilai, tarif yang wajar untuk SMS lintas operator seharusnya hanya sekitar Rp 100 karena besaran tarif produksi yang dikeluarkan operator hanya berkisar Rp 76.

Namun pendapat tersebut dimentahkan oleh beberapa eksekutif di industri telekomunikasi. Karena, menurut mereka, data yang digunakan oleh KPPU tersebut hanya berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Ovum, konsultan asing yang disewa Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

“Kajian yang dilakukan oleh konsultan tersebut hanya untuk interkoneksi di mana yang dihitung hanya tarif terminasi dan originasi berdasarkan network element cost. Karena itu muncul angka Rp 76, yakni Rp 38 dikalikan dua,” jelas salah satu eksekutif yang tak mau disebut namanya, Rabu (16/8/2008).

Metode yang digunakan konsultan tersebut, lanjutnya, berbasis Long Run Incremental Cost (LRIC) di mana asumsi untuk menghitung tarif SMS berdasarkan efficiency network design. Asumsi tersebut, menurutnya, tidak memperhitungkan kapasitas-kapasitas cadangan untuk event tertentu, misalnya: Lebaran, Natal atau Tahun Baru. “Padahal mempersiapkan jaringan untuk event-event tersebut memerlukan investasi yang tidak sedikit,” keluhnya.

Sedangkan dari sisi operator, keluhnya lagi, metode penghitungan yang dilakukan memasukkan beberapa komponen biaya seperti tarif pungut retail (retail service cost), common cost (biaya penjualan, promosi, dan gaji), serta komponen pajak.

Dari tarif yang ditetapkan saat ini, retail service cost mendapatkan porsi 40%. Sementara profit hanya sebesar 10%-15% dari total biaya produksi. “Dengan metode penghitungan semacam ini saja menjadikan Indonesia berada di posisi 37 sebagai negara dengan tarif SMS termurah di dunia dari 187 negara,” klaimnya.

Sudah Murah?

Sementara di lain kesempatan, Direktur Utama PT Indosat Tbk, Johnny Swandi Sjam, juga merasa tarif pungut SMS yang dikenakan operator pada masyarakat sudah terhitung murah. Ia pun membandingkan antara tarif pungut SMS yang berlaku di Eropa dan di Indonesia saat ini.

Di Eropa, kata dia, tarif pungut yang dikenakan operator terhadap pelanggan korporat untuk pembelian SMS secara wholesale (bulk) dikenakan biaya sekitar US$ 2 sen – 2,5 sen, atau sekitar Rp 180 hingga Rp 250.

“Itu untuk penjualan secara bal-balan. Di Indonesia untuk retail, saya rasa wajar jika operator mengambil untung sedikit lebih mahal (hingga Rp 350) dibandingkan bulk SMS,” jelas Johnny yang sebelumnya juga menjabat sebagai Ketua ATSI.

Selain itu, lanjut dia, di Eropa dan beberapa negara lainnya, operator menerapkan skema berbasis interkoneksi untuk SMS, di mana penerima dan pengirim dikenakan biaya. Sedangkan di Indonesia yang diterapkan adalah skema Sender Keep All (SKA) atau hanya si pengirim yang dikenakan biaya.

“Dengan skema seperti itu, tarif SMS retail di Jerman bisa mencapai Rp 2.600. Coba bandingkan dengan di Indonesia yang cuma Rp 250-Rp 350,” tandasnya. Nah, bagaimana menurut Anda? ( rou / wsh )

Achmad Rouzni Noor II – detikinet

Jakarta – Regulator tengah mewaspadai indikasi terbentuknya kartel atau persekongkolan antaroperator yang tergabung dalam konsorsium pembangunan infrastruktur Palapa Ring di kawasan timur Indonesia.

Berangkat dari kekhawatiran itu, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengaku tengah menyiapkan perangkat kebijakan yang diharap bisa mencegah infrastruktur serat optik sepanjang 10 km itu dimonopoli oleh segelintir pihak saja.

“Kami memang ingin infrastruktur sharing di Palapa Ring, namun semangat kompetisi haru tetap jalan terus,” lugas Anggota BRTI Koesmarihati dalam diskusi Mastel di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (5/3/2008).

Konsorsium Palapa Ring kini beranggotakan enam perusahaan telekomunikasi, yakni, Telkom, Bakrie Telecom, Excelcomindo Pratama, Indosat, Infokom Elektrindo, dan Powertek Utama Internusa.

“Kami tidak ingin enam operator ini bikin kartel supaya operator lain juga bisa ikut menggunakan. Mereka baru sebatas pemilik jaringan, jadi jualannya harus terpisah dan tidak boleh bersekongkol,” tuntas mantan dirut Telkomsel ini. ( rou / dwn )

Fransiska Ari Wahyu – detikinet
<!––>


N78 (Ist.)

Helsinki – Dua perusahaan raksasa, Nokia dan Microsoft semakin mantap menggalang kekuatan. Yang terbaru, Nokia siap membenamkan teknologi video Web Silverlight besutan Microsoft di ponselnya.

Teknologi Silverlight untuk awalnya bakal ditautkan pada ponsel yang berplatform software S60. Namun, ke depan akan menyusul juga digunakan pada platform S40 yang banyak digunakan pada ponsel Nokia berharga miring.

Selain banyak digunakan di ponsel Nokia, S60 juga banyak digunakan di smartphone laris lain besutan LG dan Samsung. Jumlah total ponsel yang sudah menggunakan platform sorfware ini diprediksi mencapai 150 juta unit.

Seperti dikutip detikINET dari canada.com, Rabu (5/3/2008), teknologi Silverlight merupakan rival dari teknologi Adobe System Inc’s Flash. Kendati memutuskan untuk menggunakan Silverlight, pihak Nokia mengaku akan tetap mempertahankan teknologi Flash untuk handsetnya.

Kerjasama antara Nokia dan Microsoft sendiri mulai dirintis pada 2005. Keduanya sepakat menautkan Windows Media Player di ponsel Nokia. Kemudian di tahun 2007, Nokia mulai menggunakan software copy protection PlayReady Microsoft serta menambahkan layanan Windows Live untuk ponselnya. ( ash / ash )

Bagi yang sering surfing di Internet akan terasa sekali bahwa tidak mudah untuk mencari ilmu di Internet. Seringkali pada saat kita surfing justru tenggelam dalam lautan informasi; terlalu enak membaca-baca tanpa tujuan yang jelas; melihat-lihat berbagai etalase informasi di berbagai situs tanpa tujuan yang jelas hanya untuk memuaskan mata & pikiran; memang pada akhirnya kita akan memperoleh banyak informasi tapi belum tentu memperoleh sesuatu yang betul-betul bermanfaat atau biasanya maksimum kita akan memperoleh berita-berita / informasi terakhir sebagai pengganti koran.

Bagi anda yang mempunyai waktu yang sempit saya yakin tidak mungkin menggunakan pola-pola di atas untuk melakukan surfing di Internet. Kita perlu menggunakan metoda / pola yang baik supaya bisa memperoleh informasi yang sangat spesifik dengan baik dalam waktu yang singkat. Satu hal yang perlu di pegang erat-erat pada saat kita surfing adalah menentukan dengan sangat jelas niat / tujuan utama pada saat surfing tersebut – apa yang akan kita cari? Pada kesempatan ini saya akan memberikan sedikit tip & trik jika kebetulan niat anda adalah mencari ilmu di Internet.

Untuk menghemat waktu & pulsa biasanya saya surfing pada pukul 4-6 pagi (subuh); pada saat itu tidak banyak orang yang menggunakan Internet sehingga pengambilan informasi dari Internet dapat dilakukan dengan cepat & effisien. Teknik-teknik untuk melakukan sinkronisasi menggunakan browser yang kita gunakan (seperti Internet Explorer) ada baiknya di kuasai supaya tidak menghabiskan waktu / pulsa untuk membaca informasi tersebut akan tetapi cukup mendownload semua informasi tersebut ke PC yang kita gunakan & membaca-nya kemudian secara off-line pada saat telepon kita putuskan. Teknik sinkronisasi pernah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya; dan sangat penting untuk menghemat waktu dalam mendownload berbagai informasi setelah situs-nya di temukan.

Untuk mencapai situs / informasi yang tepat trik yang harus digunakan sebetulnya tidak terlalu rumit. Cara yang paling effektif / sederhana adalah:

” Menggunakan search engine di Internet.

” Menggunakan keyword yang benar.

Jika kedua hal tersebut anda lakukan dengan baik & benar maka akan diperoleh ilmu & pengetahuan yang baik.

Ada banyak sekali search engine di Internet. Search engine hanyalah memuat daftar alamat situs (berbentuk Universal Resource Locator – URL) & subjek yang di bawa situs tersebut saja. Search engine umumnya tidak membawa informasi itu sendiri. Beberapa search engine favourite saya adalah:

http://www.yahoo.com

http://www.infoseek.com

dan untuk mencari hal-hal yang berkaitan untuk pendidikan anak-anak saya biasanya menggunakan:

http://www.yahooligans.com

Tampak pada gambar adalah tampilan yahooligans.com. Saya sangat menyarankan bagi anda yang mempunyai putra-putri untuk menggunakan situs ini untuk mencari hal-hal yang bermanfaat untuk menunjang pendidikan anak.

Yahoo.com & infoseek.com mempunyai karakteristik yang berbeda; biasanya jika kita mencari hal-hal yang cukup solid atau mencari dalam kerangka institusi, negara dll saya biasanya menggunakan yahoo.com. Untuk hal-hal yang betul-betul baru atau belum terstruktur dengan baik maka saya menggunakan infoseek.com.

Selanjutnya adalah penggunakan keyword yang tepat. Keyword tersebut di ketikan ke dalam kolom yang kosong di search engine. Tampak pada contoh situs yahooligans.com kolom untuk memasukan keyword terletak di sebelah tombol “search”.

Keyword favourite saya adalah:

FAQ

Whitepaper

FAQ adalah Frequently Asked Questions (FAQ). Sesuai namanya FAQ akan memuat berbagai jawaban dari pertanyaan yang sering ditanyakan dalam sebuah bidang. Saya biasanya menggunakan FAQ sebagai awal dalam mencari berbagai informasi / pengetahuan yang saya butuhkan.

Whitepaper adalah istilah bagi berbagai ilmu / informasi yang memang di sebarkan secara gratis / cuma-cuma di Internet. Kita cukup menambahkan beberapa keyword tambahan yang menjelaskan tentang ilmu / informasi yang spesifik yang kita cari, contoh:

Faq gardening

Whitepaper telecommunication

Faq distance learning

Dengan menggunakan rangkaian keyword tersebut hampir di jamin anda akan memperoleh informasi / pengetahuan yang anda cari. Tentunya karena kita menggunakan internet maka informasi / pengetahuan yang terbanyak umumnya mengunakan bahasa inggris – konsekuensi-nya keyword yang digunakan sebaiknya dalam bahasa inggris agar kemungkinan memperoleh ilmu yang di cari dapat maksimal.

Selamat mencoba.

___________
Dr. Onno W PurboPraktisi Teknologi Informasi.

E-mail tampaknya sudah mulai terasa oleh banyak teman sebagai media yang paling ampuh untuk berinteraksi secara murah media di Internet. Bahkan e-mail memungkinkan komunikasi yang jauh lebih murah di bandingkan dengan chatting yang bayarnya jam-jam-an hanya untuk berkomunikasi dengan segelintir orang di Internet.

Dengan e-mail memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan banyak orang sekaligus melalui fasilitas mailing list tanpa perlu pusing oleh lamanya pulsa. Pada kesempatan ini saya menggunakan Microsoft Outlook Express sebagai contoh. Untuk perangkat lunak e-mail yang lain seperti Eudora, Microsoft Outlook dll prinsip-nya sama hanya mungkin lokasi & tampilan setup-nya akan lain.

Prinsip yang paling mendasar pada akses e-mail adalah sambungan ke Internet & pulsa telkom hanya dibutuhkan pada saat kita (1) mengirimkan e-mail ke Internet dan (2) mengambil e-mail dari server mail di ISP. Selain dari ke dua hal itu, seperti membaca e-mail, menulis e-mail, menyimpan e-mail ke disk dll semua-nya dapat dilakukan tanpa perlu menyambungkan PC kita ke Internet. Bagi pengguna Internet biasa (seperti istri saya) hanya dibutuhkan sekitar 5-15 menit / hari sambungan ke Internet untuk mengirim & mengambil (send & receive) mail dari Internet. Artinya hanya dibutuhkan sekitar Rp. 750-2500 / hari untuk telkom + ISP-nya.

Supaya sambungan Internet langsung putus secara otomatis setelah semua mail di kirim ke Internet dan mail di server di ambil, yang perlu kita lakukan adalah meng-click “Hang up after sending and receiving” lokasinya ada pada Tools ‘ Options ‘ Connection. Tampak pada gambar adalah tampilan option tersebut.

Dengan cara demikian setiap kali kita menekan tombol send-receive maka hubungan Internet akan terputus secara otomatis setelah semua transaksi pengiriman & penerimaan e-mail dilakukan.

___________
Dr. Onno W PurboPraktisi Teknologi Informasi.

Oleh; Probo Hindarto

Penjajahan tidaklah menyenangkan, meskipun bangunan-bangunan itu indah dan sejarah tidak terlupakan, tetap teringat sebuah kondisi bangsa, rakyat dan hak manusia dimanipulasi sedemikian rupa, sehingga membuat tubuh bangsa ini kering seperti tak bernyawa. Kolonialisme dari sisi kolonial membawa keuntungan ekonomis berlipat ganda, namun dari sisi pribumi Nusantara, membawa dampak pemiskinan dan perbudakan. Barangkali, dengan itu kita menjadi emosional, bila melihat bangunan-bangunan kolonial itu, menyisakan sebuah rasa iba, yang belum terobati kecuali dengan menata kembali tubuh negeri yang porak-poranda, dan kita tak mampu pula merobohkannya; sebuah memori yang pahit sekaligus patut dikenang. Meski ada pula mereka yang cukup tega, merobohkan sisa-sisa dinding yang menceritakan seribu cerita.


Perbudakan, dilegalisasi oleh VOC, keramah-tamahan sebuah negeri perawan yang disalahgunakan…
(Sumber; http://www.swaramuslim.com/galery/sejarah/index.php?page=VOC)


Sebuah pawai bangsawan di negeri pribumi

Namun dengan mencoba memikirkan kembali, apakah kita masih bermental ‘terjajah’ atau ‘merdeka’, adalah sebuah keputusan; untuk mengagumi atau melecehkan, mendukung atau merobohkan, menghadap atau berpaling,…

finally; we have a choice

Masih teringat beberapa waktu lalu, dalam mailing list AMI, sebuah petisi penolakan pembongkaran bangunan Pasar Johar di Semarang, diikuti oleh ratusan anggota mailing list, yang didukung oleh ketua IAI Jakarta; Ahmad Djuhara serta berbagai tokoh dari kalangan arsitektur, dan menarik perhatian anggota milis lain yang tersebar di pelosok Indonesia, bahkan terdapat email yang menyertakan beberapa puluh orang yang berkonsensus untuk menolak rencana pembongkaran pasar Johar. Pasar Johar adalah contoh nasib sebuah bangunan kolonial di tangan negeri yang ditinggalkan koloni penjajahnya, membuat kita berjibaku dengan peninggalan-peninggalan yang megah yang belum mampu lagi kita bangkitkan kejayaannya, karena intelektual dibalik pembangunan itu, ikut juga bersama perginya si kolonial, menyisakan puing yang mampu membuat kita terkagum-kagum.


Pasar Johar, Semarang.
Sumber; http://www.semarang.go.id/cms/pemerintahan/dinas/pariwisata/gedung/johar.php

Bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial memang patut disimak, karena keberadaannya menyiratkan perkembangan desain arsitektur modern di Indonesia. Pada masa-masa tersebut, para arsitek Belanda banyak membawa pengaruh Eropa di tanah Indonesia, sehingga keberadaan bangunan-bangunan ini juga memberi pengaruh besar bagi arsitektur modern saat ini. Salah satu bukti pengaruh ini adalah bangunan-bangunan terkini kebanyakan mengambil sistem konstruksi yang biasa digunakan dalam arsitektur dari negeri Belanda. Selain itu, bangunan-bangunan tua merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dalam kesehariannya, dimana wajah arsitektur kolonial turut mewarnai sebagian wajah kota, yang menjadi identitas kota. Bangunan-bangunan saat ini juga banyak yang memakai gaya arsitektur kolonial sebagai inspirasi dari desain-desain baru, misalnya desain ruko.

Ketika satu-persatu bangunan-bangunan tua ini roboh, atau sengaja dirobohkan, kadang-kadang tanpa suara, tanpa cerita, berganti dengan wajah baru yang terlihat lebih masa kini, pertanyaan-pertanyaan bermunculan; apakah layak bangunan yang menyimpan sejarah itu dirobohkan? Beberapa alasan dikemukakan; kota tidak dapat berdiri dengan bangunan yang itu-itu saja, mempersempit ruang perubahan. Karena itu banyak bangunan tua beralih fungsi, bahkan dihancurkan.

Sisi lain yang patut diperhitungkan dari arsitektur Kolonial;
setidaknya kita tahu mengapa kita mempertahankannya!

Selain sisi bangunan sebagai obyek apresiasi dan mengerti lebih jauh sistem konstruksi yang mendasari sebagian besar sistem konstruksi bangunan yang ada saat ini, arsitektur kolonial juga menyimpan sebuah tantangan untuk dipahami secara lebih dalam. Karena ia adalah representasi dari kehadiran kolonial, yang dari situasi itu terdapat berbagai metafora yang dapat diambil maknanya, maka keberadaan arsitektur kolonial yang dilestarikan membawa kemungkinan adanya kesadaran lebih akan sebuah jatidiri bangsa.

Bukan sebuah jatidiri dimana kita mengekor karya-karya monumental ‘nan agung’ pada jamannya tersebut, namun lebih kepada melihat kembali, sebuah reposisi akan situasi dimana kita tidak lagi berada dalam kondisi terjajah, namun dalam kondisi merdeka yang mampu melihat kembali kepada masa silam, dan dengan itu menentukan masa depan. Karenanya, bila kita dapat menyadari hal ini, kita dapat memposisikan diri, melihat arsitektur kolonial tidak hanya sebagai ‘architectural delight‘, namun akhirnya menjadi sesuatu yang bermakna, sebuah simbol.

Simbol apakah kiranya yang dapat diambil dari arsitektur kolonial, sebuah memori akan penjajahan? Secara umum, dari perspektif bangsa, masa kolonial menyimpan rasa duka, rasa terjajah, tidak bebas, diperbudak, dan sisi gelap sebuah penjajahan. Keberadaannya adalah sebagai ‘monumen’ bangsa penjajah, maka melihat kembali ‘monumen’ itu akan mengingatkan kita pada sebuah masa suram, sebuah ‘holocaust’ seperti masa kekejaman NAZI. Memang tidak sekejam itu, namun dukalara karena lamanya penjajahan mungkin bisa menjadi pembandingnya, belum pula korban dari si terjajah.

Untuk itu, maka keberadaan ‘monumen-monumen’ ini menjadi penting untuk mengingatkan kita, pada kesadaran, setidaknya adanya ‘masa-masa suram’ yang tidak boleh terjadi lagi dalam kehidupan negeri ini, dengan cara apapun kita berusaha tidak memperbolehkan adanya kolonialisme.

***

oleh : Yulia Eka Putrie
Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

…dan ketika sebuah bangsa telah lengah,
yang tersisa dari sejarah
hanya dinding-dinding bisu yang berdarah
(anonim)


Dokumentasi arsitektur kolonial di Malang di masa lalu

Tiga baris puisi di atas mengandung pesan yang dalam tentang nilai sejarah bagi sebuah bangsa. Nyatalah bahwa kemampuan untuk menghargai sejarah dan mengambil pelajaran darinya ternyata sangat penting bagi kelangsungan hidup bangsa itu sendiri. Sebuah kalimat yang telah sering kita dengar menyampaikannya lebih singkat, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”

Di dalam setiap sejarah berkumpul berbagai unsur pembentuknya: manusia, peristiwa, waktu, dan tempat. Keempatnya bersinergi membentuk informasi yang utuh bagi keberlanjutan sebuah sejarah. Walaupun demikian, telah nyata bahwa manusia tak dapat hidup selamanya, peristiwa pun datang dan pergi hanya sekali, sementara waktu tak dapat berputar kembali. Hanya tempat yang bertahan menjadi saksi bagi sejarah. Hanya tempat yang tetap tinggal dan dijadikan wadah persinggahan waktu. Ketika sejarah tidak lagi memiliki makna di hati sebuah bangsa, seperti diungkapkan baris-baris puisi di atas, maka yang tersisa dari suatu tempat (place) hanyalah ruang (space) yang tidak lagi punya makna.

Lalu, apakah peran arsitektur bagi sebuah sejarah? Arsitektur hadir sebagai bagian dari tempat, sebagai salah satu unsur pembentuk sejarah. Arsitektur merupakan penanda yang memberikan identitas bagi sebuah tempat. Ia lantas memiliki peran yang signifikan bagi keberlanjutan sejarah dalam memori generasi berikutnya. Kecuali sebuah bangsa telah kehilangan penghargaannya terhadap sejarah, arsitektur dari masa lalu semestinya tetap dapat memberikan pelajaran berharga bagi bangsa itu di episode-episode generasi selanjutnya.


Dokumentasi arsitektur kolonial di Malang di masa lalu

Arsitektur Kolonial, Perlukah Dipertahankan?
Jika uraian singkat di atas kita hubungkan dengan fenomena perubahan besar-besaran pada wajah kota di Indonesia, maka sekilas akan dapat kita tarik kesimpulan sepihak: Bangsa ini tampaknya makin kehilangan penghargaannya terhadap sejarah. Kesimpulan ini mungkin masih bersifat sangat subyektif. Walaupun begitu, ia tetap dapat dijadikan bahan refleksi berharga bagi setiap usaha untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang besar, bukan semata-mata dalam jumlah penduduknya, namun lebih pada kualitas kepribadiannya.


Pasar besar Malang, bangunan tua kolonial


Yang telah digantikan wajah baru arsitektur modern

Arsitektur kolonial, sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air, merupakan salah satu bagian wajah kota yang kian tercarut oleh keadaan ini. Salah satu contoh; di kota Malang, usaha-usaha peremajaan kota yang hanya mempertimbangkan faktor ekonomi dan bisnis telah mengorbankan banyak pertimbangan lainnya, di antaranya faktor kesejarahan. Meskipun demikian, masih dapat kita lihat sisa-sisa peninggalan arsitektur kolonial yang berdiri dengan tegar, walaupun sebagian besar berada dalam kondisi seadanya dan kurang terurus.


Dokumentasi arsitektur kolonial di Malang di masa lalu

Diakui atau tidak, masa kolonial Belanda sedikit banyak telah memberi pengaruh positif dalam perkembangan arsitektur kota ini. Dibandingkan dengan arsitektur tahun 90-an, jejak-jejak arsitektur kolonial terasa lebih banyak memberikan warna yang khas bagi kota Malang hingga saat ini. Karakteristiknya yang kuat menjadikan arsitektur kolonial sebagai langgam yang sangat dikenal, bahkan oleh orang-orang yang lahir jauh setelah masa kemerdekaan.


Sebuah bangunan indah karya arsitek Belanda di Malang, yang digunakan sebagai tempat berkumpul para bangsawan Belanda.


Digantikan oleh arsitektur modern “kamar mandi” (karena berlapis keramik putih dan merah seperti kamar mandi), sekarang telah berubah wajah sekali lagi, menjadi ‘arsitektur Mall’

Dalam wacana arsitektur, langgam arsitektur ini bukannya sama sekali terbebas dari kontroversi. Beragam pertanyaan dan pernyataan mengenai perlu tidaknya mempertahankan bangunan-bangunan yang notabene merupakan peninggalan para penjajah kerap kali muncul di dalam forum-forum diskusi. Sebagian pihak mempertanyakan hal ini dengan semangat nasionalisme yang tinggi, namun sebagian lainnya tampaknya lebih memanfaatkan wacana ini sebagai kedok yang sempurna bagi kepentingan pribadi dan keuntungan ekonomi mereka.

Terlepas dari berbagai wacana di atas, sudut pandang keilmuan arsitektur dengan segala pertimbangan komposisi, estetika, proporsi dan sebagainya, tampaknya bersepakat akan tingginya ’nilai arsitektural’ bangunan-bangunan kolonial ini. Diakui ataupun tidak, kekuatan karakteristik yang ditampilkan oleh obyek-obyek arsitektur kolonial itu memang telah benar-benar mempercantik wajah kota kita. Kenyataan ini mestinya dapat menggugah usaha kita untuk tetap mempertahankannya. Jika tidak, mungkin inilah saatnya membuktikan kebenaran pepatah yang mengatakan bahwa sesuatu yang benar-benar indah akan dapat bertahan dengan sendirinya. Thus the real beauty will last after all…

***

Air adalah unsur kehidupan terpenting dalam hidup kita, dimana kita membutuhkan sejumlah cairan dalam tubuh agar metabolisme tetap terjaga dengan baik. Air juga unsur alam yang dapat menunjukkan tingkat sehat tidaknya sebuah area kehidupan manusia, misalnya air sungai, mata air, air minum dan sebagainya. Pendek kata, air adalah bagian dalam hidup yang tidak remeh.


Dalam hunian yang memadai, kolam renang dapat menjadi area pusat aktivitas kesehatan seperti berolahraga bagi seluruh keluarga. (foto: dok. astudio)

Dalam desain sebuah hunian, air dapat menjadi penyegar yang menyehatkan lingkungan, serta dapat digunakan sebagai penunjang kebutuhan kesehatan dan rekreasi, misalnya menggunakan air dalam kolam renang sehingga kita bisa berolahraga, membuat kolam ikan yang segar, membuat air terjun buatan sehingga terdengar gemericik yang menyenangkan, dan sebagainya. Hal ini karena air adalah kebutuhan manusia yang sebenarnya sangat mendasar, yaitu hubungan dengan alam.

Menghadirkan air dalam hunian dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan membuat kolam renang, kolam ikan, pancuran, air terjun dan sebagainya. Pada saat ini berbagai macam kolam dengan berbagai tujuan dapat dibangun dengan semakin mudah, karena jasa pembuatan kolam dan taman sudah semakin menjamur.

Bila kita tidak memiliki lahan yang cukup atau dana cukup untuk membuat kolam renang, kita dapat menghadirkan unsur air dalam kolam ikan, atau pancuran sederhana. Hal ini dapat kita konsultasikan dengan pembuat taman atau kontraktor taman.

Kolam ikan relatif mudah untuk dibuat, dan membuatnya tidak memerlukan waktu lama. Bila diinginkan, pada lahan yang masih kosong dalam area rumah kita bisa digunakan untuk kolam ikan. Kolam ikan bisa membawa suasana refreshing dalam rumah kita, misalnya bila kita melihat ikan-ikan berenang di kolam ikan, adakalanya perasaan kita semakin tenang dan sejuk, sehingga hal ini bisa menjadi terapi yang menyegarkan dalam rumah.


Gemericik air yang turun menuju kolam, menimbulkan suasana alami pedesaan ang menyegarkan. Betapa hebatnya bila dihadirkan dalam hunian Anda. (foto: dok astudio)

Kolam ikan juga dapat membuat tamu merasa lebih betah, apalagi bila dipadukan dengan suara gemericik air kolam, wah sepertinya tamu mungkin akan semakin betah. Seorang klien astudio mengatakan bahwa ia ingin menghadirkan kolam didekat ruang tamu sehingga tamu dapat memandang kolam ini dan merasa nyaman didalam ruang tamu. Tampaknya hal ini cukup berhasil.


Bahkan cara termudah untuk menghadirkan unsur air juga bisa dilakukan secara sederhana seperti contoh ini, yaitu gentong dan wadah air yang menimbulkan suara gemericik menyegarkan di area rumah ini. (foto: dok. astudio)

Pancuran sederhana dapat dihadirkan agar unsur air membuat bunyi dan musik alami yang segar dan membuat kita nyaman. Bayangkan bila kita sedang tiduran di sebuah bale taman dan terdapat bunyi gemericik air, sangat refreshing bukan!

*** astudio.id.or.id

Gaya rumah minimalis, yang sedang digandrungi saat ini, adalah termasuk gaya modern saduran dari luar negeri. Namun ternyata, di Indonesia kita sering mendapati gaya minimalis dipadukan dengan unsur-unsur ‘lokal’, seperti misalnya batuan ekspos. Yang dimaksud batuan ekspos adalah susunan batuan yang sengaja diperlihatkan melalui tampilan bangunan, misalnya batuan yang dipotong tipis-tipis dan ditata pada permukaan dinding bangunan. Umumnya batuan ekspos digunakan pada bagian eksterior bangunan (luar), meskipun banyak juga orang yang menyukai unsur batuan ini hadir didalam interior rumah. Banyak orang menyukai ide menggunakan batuan ekspos karena membuat rumah terasa lebih ‘dingin’, sejuk dan dekat dengan alam

Memandang batuan seperti ini, memang mengingatkan kita pada kesan alami dari alam yang sesungguhnya. Tak heran, karena batuan banyak ditemukan di sungai, tebing, pegunungan, sekitar air terjun, dan tempat-tempat alami lainnya. Ternyata, yang alami ini bisa juga dipadukan dengan unsur-unsur modern seperti kaca, tembok biasa dan bahan alami lain, seperti kayu. Tampilannya yang bersahaja, sekaligus memiliki karakter kuat, turut memberikan tampilan unik pada rumah tinggal maupun bangunan lainnya.

Khusus untuk desain rumah minimalis, terdapat beberapa pilihan batuan yang sering digunakan, antara lain batu andesit dan batu candi. Keduanya memiliki tekstur dan tampilan yang hampir sama, hanya saja batu andesit lebih kuat dan padat daripada batu candi, selain itu lebih mampu menahan tumbuhnya lumut.

Cara memasang batuan ini biasanya dipilih susunan yang segaris, untuk mendukung gaya minimalis yang digunakan. Tampilan bergaris-garis ini membentuk susunan seperti susunan bata. Adakalanya susunan batuan ekspos ini cukup inovatif, seperti susunan tidak rata, berselang-seling, dan sebagainya.


sumber gambar: http://images.lowes.com/general/b/brickpatio_patterns.jpg

Untuk memasang batuan ekspos ini pada rumah bergaya minimalis, sebaiknya kita memperhatikan jenis batu yang digunakan. Karena ‘gaya minimalis’ cukup banyak menggunakan warna-warna netral, maka warna batuan yang abu-abu cenderung hitam cukup sesuai dengan gaya ini. Batuan lain seperti batu paras dan palimanan, cukup sesuai digunakan untuk gaya arsitektur Mediterania, klasik atau etnik.

Jangan lupa memilih tukang yang berpengalaman untuk memasang batuan ekspos ini, karena pekerjaan ini menuntut keahlian dan ketelitian dalam memasangnya. Setelah dipasang, batuan ini bisa diberi coating, lapisan agar tampilan batuan lebih bagus dan mudah dibersihkan. Coating juga membuat batuan lebih tahan lumut. Pilihan coating yang tersedia adalah glossy (mengkilap), atau dove (buram). Perbedaan kilap atau buram ini terlihat dari kesan permukaan batuan yang cenderung memantulkan cahaya atau tidak.

***

(Probo Hindarto)

« Newer Posts - Older Posts »