Feeds:
Posts
Comments

Influenza A(H1N1) virus is a subtype of influenzavirus A and the most common cause of influenza (flu) in humans. Some strains of H1N1 are endemic in humans and cause a small fraction of all influenza-like illness and a large fraction of all seasonal influenza. H1N1 strains caused roughly half of all human flu infections in 2006.[1] Other strains of H1N1 are endemic in pigs (swine influenza) and in birds (avian influenza).

In June 2009, WHO declared that flu due to a new strain of swine-origin H1N1 was responsible for the 2009 flu pandemic. This strain is commonly called “swine flu” by the public media.

Nomenclature


The various types of influenza viruses in humans. Solid squares show the appearance of a new strain, causing recurring influenza pandemics. Broken lines indicate uncertain strain identifications.[2]

Influenza A virus strains are categorized according to two proteins found on the surface of the virus: hemagglutinin (H) and neuraminidase (N). All influenza A viruses contain hemagglutinin and neuraminidase, but the structure of these proteins is said to differ from strain to strain due to rapid genetic mutation in the viral genome. However, reconstruction of the genome through sequencing techniques such as RNA-Seq is a heuristic process because trying all possible alignments of the short reads is computationally prohibitive, therefore none of the possible alignments can be proven to be correct. This lack of experimental repeatability might lead to measuring noise being incorrectly interpreted as a mutation or a new virus.

Influenza A virus strains are assigned an H number and an N number based on which forms of these two proteins the strain contains. There are 16 H and 9 N subtypes known in birds, but only H 1, 2 and 3, and N 1 and 2 are commonly found in humans.[3]

The flu pandemic Spanish flu , also known as La Gripe Española, or La Pesadilla, was an unusually severe and deadly Strain (biology)strain of avian influenza, a virus viral infectious disease, that killed some 50 million to 100 million people worldwide over about a year in 1918 and 1919. It is thought to be one of the most deadly pandemics in human history. It was caused by the H1N1 type of influenza

The Spanish flu caused an unusual number of deaths because it may have caused a cytokine storm in the body. ref cite journal author=Kobasa D, Jones SM, Shinya K, et al title=Aberrant innate immune response in lethal infection of macaques with the 1918 influenza virus journal=Nature volume=445 issue=7125 pages=319–23 year=2007 month=January pmid=17230189 doi=10.1038 nature05495 ref cite journal author=Kash JC, Tumpey TM, Proll SC, et al title Genomic analysis of increased host immune and cell death responses induced by 1918 influenza virus journal.The recent epidemic of bird flu, also an Influenza A virus, had a similar effect. journal author=Cheung CY, Poon LL, Lau AS, et al title=Induction of proinflammatory cytokines in human macrophages by influenza A (H5N1) viruses: a mechanism for the unusual severity of human disease? journal=Lancet volume=360 issue=9348 pages=1831–7 year=2002 month=December |pmid=12480361.The Spanish flu virus infected lung cells, leading to overstimulation of the immune system via release of cytokines into the lung tissue. This leads to extensive leukocyte migration towards the lungs, causing destruction of lung tissue and secretion of liquid into the organ. This makes it difficult for the patient to breathe. In contrast to other pandemics, which mostly kill the old and the very young, the 1918 pandemic killed unusual numbers of young adults, which may have been due to their healthy immune systems being able to mount a very strong and damaging response to the infection.

The term “Spanish” flu was coined because Spain was at the time the only European country where the press were printing reports of the outbreak, which had killed thousands in the armies fighting the First World War. Other countries suppressed the news in order to protect morale.cite book|last=Barry|first=John M.|authorlink=John M. Barry|title=The Great Influenza: The Epic Story of the Greatest Plague in History

Reff : wikipedia.org

Caffein bersifat stimulan (membuat mata melek) dan diuretik (jadi banyak pipis). Karena sifat stimulannya, caffein meningkatkan tekanan darah dan frekuensi nadi, yang mana kedua hal ini sebaiknya tidak terjadi pada kehamilan. Caffeine juga meningkatkan frekuensi pipis yang mana hal ini menyebabkan berkurangnya cairan tubuh dan dehidrasi.

Caffein dapat menembus plasenta dan sampai ke bayi. Jika tubuh ibu masih mampu menghandle sejumlah caffein, tetapi tidak demikian halnya dengan bayi. Metabolisme bayi belum sempurna sehingga tidak bisa sepenuhnya mengolah caffein yang masuk.

Disamping kopi, caffein juga ditemukan dalam teh, soda (coca cola), coklat dan obat2an (obat flu atau sakit kepala).

Caffein bisa menyebabkan cacat pada bayi manusia? Beberapa penelitian dengan mempergunakan hewan percobaan didapatkan caffein bisa menyebabkan cacat bawaan, persalinan kurang bulan, mengurangi kesuburan dan meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan kurang (low-birth weight). Sedangkan penelitian pada manusia belum menghasilkan sesuatu yang konklusif. Tapi alangkah baiknya untuk main aman saja terhadap sesuatu yang inkonklusif.

Caffein mengganggu kesuburan? Beberapa penelitian memperlihatkan hubungan antara mengkonsumsi caffein dalam jumlah banyak dengan lambatnya hamil.

Caffein dapat menyebabkan keguguran? Terdapat beberapa penelitian mendaptkan terjadinya peningkatan kejadian abortus pada wanita yng mengkonsumsi lebih dari 300 mg (3 gelas kopi) sehari. Efek lainnya yang juga meningkat adalah persalinan kurang bulan serta BBLR sehingga lebih aman menghindari caffein sebisa mungkin.

Wanita hamil tidak boleh mengkonsumsi caffein sama sekali ? Para ahli mengatakan bahwa konsumsi caffein dalam kadar menengah tidak memiliki efek terhadap kehamilan. Batasan moderat disini adalah antara 150-300 mg.

Sumber: APA

Mungkin kita sering mendengar ucapan seperti ini,” Kamu sudah berubah, sudah lebih peka terhadap sekeliling tidak seperti !”. Atau ungkapan orang-orang tua kita yang mengatakan,” Dulu, ketika Bapak mau bertemu Ibumu di rumahnya, paling banter sampe jam 8 malam, itupun Kakekmu menunggu di ruangan sebelah.”

Ungkapan seperti di atas pasti sudah akrab di telinga kita.

Zaman terus berubah seiring dengan segala pernak-perniknya. Tentu saja kita perlu melakukan menyesuaikan diri agar kita bisa tetap eksis dan berkiprah. Cuma masalahnya adalah sikap dan langkah seperti apa yang perlu kita buat dan apa yang mesti kita tinggalkan. Berusaha memaksimalkan potensi diri dan peran untuk kemaslahatan ummat tentunya perubahan yang perlu kita lakukan, sedangkan ikut-ikutan trend yang pada prinsipnya hanya untuk bersenang-senang dan hedonisme tentunya harus ditinggalkan.

Jadi berubah, adalah suatu yang fitrah tetapi dalam koridor Dalam Upaya Menjadi Lebih Baik. Rasulallah SAW bersabda,” Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung dan barang siapa hari ini adalah sama seperti hari kemarin, maka itulah orang yang merugi.”

Hanya satu yang tidak boleh berubah, yaitu sikap penghambaan kita kepada Sang Maha pencipta..

: Jazakkaloh Mas Yossie.

Written by Andrew Ho

Achievement seems to be connected with action. Successful men and women keep moving. They make mistakes, but they don’t quit. – Prestasi terkait erat dengan tindakan. Orang-orang yang sukses akan terus berupaya. Mereka melakukan kesalahan, tetapi mereka tidak menyerah.” Conrad Hilton

Orang sukses bukan tidak pernah gagal, melainkan mereka tidak pernah menyerah. Sikap tersebut memerlukan mentalitas yang gigih. Kegigihan adalah salah satu unsur kehidupan yang sangat penting bagi kita. Sebagian besar orang-orang yang sukses memiliki mental seperti itu.

Contoh, Laksamana Peary baru berhasil mencapai Kutub Utara setelah berupaya 8 kali. Sementara Thomas Alfa Edison melakukan eksperimen 1.000 kali sebelum berhasil menemukan bola lampu dan 1.000 paten terbanyak sepanjang masa. John Creasey ditolak 743 kali oleh penerbitnya, sebelum berhasil menerbitkan 560 judul buku, yang telah terjual lebih 60 juta kopi. Begitupun yang terjadi pada Albert Einstein, Abraham Lincoln, dan lain sebagainya. Mereka tidak memiliki kelebihan khusus kecuali kegigihan.

Presiden USA ke 30, Calvin Coolidge mengatakan, “Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menggantikan kegigihan. Bakat ?, Sudah sangat umum orang yang tidak berhasil karena ia hanya mengandalkan bakat. Kecerdasan ?, Sangat banyak orang yang cerdas tetapi tidak punya apa- apa. Pendidikan yang tinggi ?, Di dunia ini sangat banyak orang terlantar yang berpendidikan cukup tinggi. Kegigihan dan tekad kuat saja yang memiliki kekuatan besar.”

Ketika kita memutuskan untuk tetap melanjutkan upaya hingga tercapai tujuan, itulah kegigihan. Meskipun tidak mudah memilikinya, tetapi kehidupan ini sendiri sebenarnya dapat membentuk kegigihan kita. Sehingga tak menutup kemungkinan kitapun memiliki sikap mental yang gigih dan menjadi salah satu dari orang-orang sukses di dunia.

Langkah yang dapat kita tempuh untuk membangkitkan mentalitas kegigihan kita adalah membaca dan mendengar kisah tentang bagaimana orang-orang sukses di dunia mengatasi berbagai rintangan sampai akhirnya mereka berhasil menjadi pemenang. Bila kita mengorek informasi lebih jauh tentang perjuangan mereka, kita akan mendapati bahwa mereka tak jauh berbeda dengan kita. Jika kita memiliki kualitas kegigihan seperti mereka, berarti kitapun mampu melakukan sesuatu yang luar biasa.

Memiliki target yang jelas dan terukur juga dapat membangkitkan kegigihan. Ketika segalanya berjalan sulit atau tantangan semakin besar, baiknya fokuskan pada target yang ingin kita capai. Orang yang sukses pasti memiliki kreatifitas untuk menciptakan alternatif- alternatif mengatasi kesulitan di tengah proses pencapaian tujuan. Target yang jelas merupakan sumber kreatifitas, keberanian dan energi untuk tetap gigih berupaya.

Melakukan visualisasi akan sangat mempengaruhi semangat dan suasana hari-hari kita. Caranya adalah mengosongkan pikiran terlebih dahulu. Kemudian pejamkan mata, dan lihatlah diri kita sejelas-jelasnya. Misalnya melihat diri kita mendapatkan sebuah penghargaan, lalu diminta memberikan kata sambutan di panggung sebagai seorang ilmuwan yang telah menemukan teknologi terbaru dan efektif memajukan hasil pertanian 100 kali lipat.

Kemudian kita juga akan melihat disana kita berbicara dengan percaya diri dan profesional serta memberikan inspirasi kepada banyak orang yang menghadiri acara tersebut. Bayangkan bagaimana seumpama kita nanti benar-benar mengalaminya. Melakukan visualisasi sesering dan sejelas mungkin seperti itu dapat membangkitkan tekad kita untuk melakukan langkah-langkah yang luar biasa. “Ingatlah selalu bahwa tekad Anda untuk sukses adalah lebih penting daripada apapun,” terang Abraham Lincoln.

Auto-suggestion atau afirmasi adalah melakukan ulangan dengan menulis atau mengucapkan sebuah harapan secara berulang-ulang. Misalnya menyatakan, “Aku akan selalu menyambut hari baru dengan penuh semangat dan senyum yang paling manis. Aku akan menikmati setiap tantangan.” Itu hanya sebuah contoh afirmasi, dan semua orang bisa menuliskan atau mengucapkan harapan yang positif sesuai keinginan masing-masing untuk meningkatkan kegigihan.

Melakukan auto-suggestion atau afirmasi bagi orang lain yang tidak mengerti tujuan yang hendak kita capai mungkin akan menganggap kita gila. Tetapi menurut Albert Cray, “Salah satu penentu sukses yang umum adalah membiasakan diri melakukan hal-hal yang tidak dilakukan oleh orang-orang yang gagal.” Karena auto-suggestion atau afirmasi dengan disertai keyakinan terbukti sangat berpengaruh terhadap pikiran dan kegigihan kita dalam melakukan langkah-langkah yang mendekatkan diri terhadap target yang ingin kita capai.

Lingkungan terdiri dari orang-orang, dan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kegigihan seseorang. Hyman Rickover mengatakan, “Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people. – Orang-orang yang hebat mendiskusikan ide-ide, orang-orang biasa-biasa saja mendiskusikan situasi, orang-orang hidupnya susah akan cenderung membicarakan tentang kekurangan orang lain.”

Kita harus pandai dan berhati-hati memilih komunitas, karena kekeliruan memilih dapat menyebabkan semangat kita turun drastis. Sebaliknya semangat atau kegigihan kita akan terpacu bila kita dikelilingi dengan orang-orang yang berpikir dan memiliki kebiasaan positif. Mereka terdiri dari orang-orang yang memiliki semangat luar biasa untuk lebih baik dan kemauan belajar yang tinggi.

Seorang yang sukses pasti memiliki program dan target kerja. Ia akan menyukai tantangan yang akan membawanya kepada kemenangan yang ia harapkan. Menghadiahi diri sendiri berdasarkan hasil tentu akan memacu kegigihan kita mewujudkan target yang lebih besar. Misalnya untuk pencapaian target jangka pendek kita nonton film terbaru atau belanja baju baru di pusat perbelanjaan. Sedangkan untuk prestasi jangka menengah kita sengaja mempersiapkan sebuah liburan ke luar kota selama 2-3 malam. Kitapun perlu memanjakan diri, misalnya melakukan wisata ke luar negri dan lain sebagainya setelah berhasil melampaui tantangan yang melelahkan untuk mencapai target jangka panjang.

Secara garis besar, kita harus belajar dari kehidupan yang terus berputar. Memang banyak diantara kita yang jatuh. Tetapi bila kita memilih untuk menang, sebenarnya mahkota kesuksesan itu berada sangat dekat dengan saat kita memulai. Jadi meskipun kecepatan kita rendah dalam menciptakan kemajuan, pastikan untuk tidak pernah menyerah dan tetap gigih melangkah.

Memberi Untuk Sendiri

Written by Swastioko Budhi Suryanto

Pada umumnya orang lebih fokus mengejar kepentingan pribadi semata-mata. Ini wajar saja dan tidak ada yang salah dengan itu. Untuk mengejar kepentingan pribadinya orang bersedia banyak berkorban. Korban tenaga, perhatian dan waktu. Semuanya dikonversi ke dalam bentuk “akumulasi energi” yang dikeluarkan untuk itu. Hal ini dinamakan “cathexis” dalam bahasa Yunani. Akar katanya berarti “mengikat”.

Energi yang telah dikeluarkan “diikat” pada obyek yang dijadikan fokus atau target sasaran. Ibarat besi lunak yang dililit kawat yang dialiri energi listrik. Besi lunak itu kemudian bersifat seperti sebatang magnit yang penuh daya tarik. Yang ahli menjadi semakin ahli karena “magnit cathexis” itu. Yang bodoh, apa yang ada di memorinya akhirnya musnah dan terlupakan juga.

Minimal untuk urusan pendidikan orang bergiat untuk kepentingan diri sendiri. Ia mengejar keahlian dalam bidang ilmu tertentu demi kepentingan aplikasi bagi dirinya sendiri. Demikian juga bila ia mengejar kemampuan ketrampilan khusus tertentu lainnya. Entah itu seni tari, musik, bela diri, sport, hobby, sastra, drama, metafisik dan sebagainya.

Memberi untuk sendiri juga seringkali salah kaprah. Kok bisa begitu ?. Tentu bisa saja. Misalnya, tubuh kita membutuhkan energi dari makanan yang kita konsumsi. Benarkah yang dimakan itu telah dan selalu sesuai yang dibutuhkan oleh tubuh itu sendiri ?. Ada yang misalnya tidak suka makanan sayur hijau. Apalagi yang rasanya pahit. Sawi pahit, misalnya, atau daun pepaya, atau buah pare. Boro-boro mau minum rebusan brotowali atau kulit kina.

Empedu setiap orang membutuhkan zat pahit supaya dapat berfungsi untuk menghancurkan lemak. Bila tidak pernah ada asupan zat pahit dari apa yang dimakan pasti akan terjadi defisit zat pahit. Akibatnya, empedu terganggu fungsinya dan terpaksa makan obat kimia yang mengandung zat pahit seperti “cholagogum” atau sejenis.

Tubuh kita membutuhkan lemak tetapi tidak sebanyak yang kita konsumsi. Kita melahap makanan serba goreng-gorengan. Akibatnya kholesterol meningkat dan tubuh mengembang bergelambir oleh lemak jenuh. Kita membutuhkan hidrat arang tetapi kalau kurang gerak maka menumpuk menjadi gula. Akibatnya bisa mengidap diabetes karena kelebihan zat gula.

Lalu apakah benar kita memberi kepada diri sendiri apa yang tubuh butuhkan. Ternyata tidak. Artinya, kita bisa egois juga kepada diri kita sendiri sekalipun. Banyak merokok dan minum alkohol misalnya, bukan hanya merusak paru-paru atau lever tetapi juga merusak otak. Kok bisa begitu ?. Semakin banyak merokok, semakin banyak oksigen diikat oleh nikotin. Akibatnya, otak kekurangan oksigen karena terlanjur dirampok oleh nikotin di tengah jalan. Kalau otak kekurangan oksigen maka daya pikir lamban dan berkurang.

Banyak menenggak alkohol membuat lever kerja ekstra keras. Untuk menetralisir satu sloki alkohol dibutuhkan kerja rodi lever lebih dari 8 jam. Lalu bagaimana kalau menenggak setengah lusin arak Cap Tikus ?. Berapa banyak waktu dibutuhkan dan berapa banyak alkohol tersisa tak teruraikan oleh lever dan kemudian akhirnya oleh ginjal ?. Belum lagi kerusakan organ kesetimbangan di telinga/otak dan kerusakan fungsi bahasa di korteks sehingga omongannya mulai menceracau tidak keruan.

Tubuh kita membutuhkan olahraga supaya otot tidak mengecil dan mengerut. Tetapi kita lebih suka bersantai dengan duduk atau rebahan. Kita tidak lagi menjadi ‘homo ambulans” (pejalan) karena lebih nikmat menjadi “homo sedenter” (duduk). Atau tubuh memerlukan air yang banyak karena 70 persen lebih organ tubuh mengandung air, tetapi kita hanya minum sehabis makan saja. Akibatnya, fungsi ginjal terganggu karena kekurangan air dan akhirnya sedimentasi meningkat di dalamnya. Salah-salah akhirnya terbentuk batu ginjal.

Sebagai makhluk sosial kita juga membutuhkan sosialisasi dan pertemanan. Namun, dalam banyak kejadian bahkan dalam pertemanan, orang lebih mementingkan dirinya sendiri. Pongah dan pamer kehebatan diri sendiri. Dengan orang yang suka mencaci, menghina, meremehkan orang lain, terlebih di muka publik, siapa pula ingin bersosialisasi dengannya. Mungkin ia mempunyai seribu alasan untuk meremehkan orang lain tetapi mana ada orang yang mau diremehkan ?.

Mungkin ia merasa sangat pintar dan hebat sehingga semua orang dianggap moron atau imbesil di matanya. Karena itu ia menuntut orang lain supaya bungkem saja kalau otaknya hanya berisi tahu air atau cincau. Sedangkan dirinya sendiri hanya mau berbagi kalau dirasakannya bakal menguntungkan atau mengharumkan namanya saja. Maka dari itu ia lebih banyak mencaci tinimbang berbagi.

Memberi untuk orang lain.

Kerap orang bermegah diri saat ia memberi untuk orang lain. Kalau perlu mengundang reporter TV supaya disorot kamera. Padahal sebenarnya ia hanya memberi untuk dirinya sendiri justru dengan memanfaatkan orang lain. Memberi kepada orang lain harus memenuhi beberapa prasyarat.

Pertama, pemberian itu harus tulus. Tidak ada orang yang mau menerima pemberian yang tidak tulus kecuali sangat terpaksa. Pemberian yang tidak tulus juga menjadi beban bagi pemberinya sendiri. Ia sibuk berhitung-hitung berapa kerugian energi yang telah dideritanya.

Kedua, pemberian yang tulus harus mulai dari kebutuhan nyata. Misalnya, saya tidak bisa dan tidak suka main golf. Kalau seorang boss memberi saya seperangkat komplit stick golf yang harganya jutaan, maka saya juga tidak akan merasa senang, berterima kasih, atau bakal memanfaatkan pemberian tersebut. Mungkin ada yang berkata saya tak tahu terima kasih karena harganya jutaan rupiah dan diberikan dengan senang hati. Tetapi apalah daya karena saya memang tidak membutuhkannya sama sekali, boro-boro lagi untuk dianggap hobby.

Ketiga, semua orang membutuhkan empati. Tidak ada manusia yang tidak butuh empati. Mungkin ia tidak butuh simpati tetapi tetap menghargai setiap empati yang bisa diperolehnya atau ditawarkan kepadanya.

Pemberian yang tidak tulus tidak mungkin pula bersifat empatik. Pemberian yang tidak sesuai kebutuhan tentu pula tidak berdasarkan empati yang memadai. Misalnya, saya tidak butuh kemeja berlengan panjang dan dasi, maka pemberian seperti ini walaupun jumlahnya lusinan tetap akan menumpuk saja di lemari pakaian saya atau akhirnya dikarduskan untuk disumbangkan ke panti sosial atau apa.

Dalam bisnis juga demikian. Kebanyakan orang berorientasi kepada produksi dan produk yang ingin ditawarkannya. Kebanyakannya latah karena malas berpikir atau kurang kemampuan kreatifnya. Jarang sekali ada pengusaha yang menawarkan produk yang sungguh-sungguh dibutuhkan oleh masyarakat dengan melakukan penelitian pasar terlebih dahulu.

Handphone “dual function” yang bisa untuk GSM dan CDMA merupakan produk yang diduhului oleh riset pasar. Orang merasa berabe mengantongi dua atau tiga handphone sekaligus. Maka kalau ada produk yang dual function maka pasti disukai konsumen walaupun masih tergantung kepada daya belinya juga. Begitu pula produk i-pod dan flash disc, semuanya berdasarkan riset pasar yang benar-benar lihay.

Dalam manajamen jarang ada pimpinan yang memperhatikan keinginan dan kebutuhan nyata karyawannya. Terutama perusahaan yang berangkat atau bertahan dalam posisi perusahaan keluarga. Perusahaan tempat anak saya bekerja, misalnya, tidak libur pada hari Sabtu padahal hampir semua perusahaan kini libur pada hari Sabtu. Demikian pula cuti karyawan tidak pernah diizinkan padahal sudah merupakan hak normatif karyawan. Bila karyawan harus tidak bekerja karena keperluan apapun maka upahnya langsung dipotong saja.

Motto yang berlaku ialah kalau masih betah silahkan tinggal. Kalau merasa tidak cocok silahkan hengkang. Karyawan diperlakukan tidak lebih berharga daripada sebuah sekrup atau maksimal suku cadang. Ini diperburuk oleh situasi tingkat pengangguran yang sangat tinggi di negeri ini. Kilah mereka, satu karyawan keluar sudah tersedia seribu yang antri untuk menggantikan posisinya. Inilah manajemen yang tidak berbasis nurani.

Kesimpulan, sukses dalam hidup ini timbul dari sikap dan perilaku altruis yang memberi pelayanan kepada pihak lain sesuai dengan kebutuhan nyata mereka dan diberikan dengan tulus hati dan empatik. Konsekuensi dari prinsip hidup ini antara lain pasti mendatangkan sukses. Entah sukses itu harus berarti sukses bisnis, pergaulan, maupun secara lebih internal dan dalam bentuk kepuasan pribadi pada pihak pemberinya.


Written by Apriadi Djamhurie Gani

John Barxton akhirnya mengemis pada Bill Gates mohon pekerjaan bagi anaknya. Bill Gates orang yang dia pecat enam tahun lalu dari perusahaannya saat Bill Gates tak sengaja menyenggol dengan tongkat mobil dinasnya (Bill Gates saat itu memakai tongkat untuk berjalan).

Marie Goretti Kepala Biara Karmel Perancis merasa tak percaya kalau Claudia Suzzane diminta untuk memimpin Ordo Biarawati tersebut di seluruh dunia termasuk Perancis. Claudia Suzzane enam tahun lalu adalah biarawati muda yang dia rekomendasikan untuk di”buang” ke Mesir dan melewati hidupnya di biara gurun pasir dengan iklim yang keras karena bertentangan dengan dirinya. Marie Goretti, tadi pagi dalam Misa Pelantikan Claudia, mencium tangan Claudia sebagai tanda hormat pada pimpinan tertinggi Ordo tersebut. Claudia masih tetap tersenyum dengan murah hati seperti saat dia meninggalkan Perancis dan meminta Marie Goretti untuk tidak mencium tangannya. Marie Gorretti hanya bisa menitikkan airmata haru.

Willy sangat berterimakasih pada Sarno, pagi tadi Sarno menyelamatkan nyawa anaknya Caecil dengan membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi. Anaknya ditabrak lari sepeda motor saat akan menyebrang dekat TK tempatnya bersekolah. Saat itu Sarno kebetulan melintas dan segera menolongnya, jika terlambat saja, maka Caecil akan lumpuh dan kehilangan daya ingatnya, atau bahkan meninggal. Sarno, mantan Office Boy di Kantor Willy – saat itu sebagai Kepala Bagian Umum – Willy meminta Sarno “keluar dengan Hormat” karena Sarno menjalin kasih dengan Ully resepsionis pada kantor tersebut dan berencana menikah. Akhirnya Sarno dan Ully memutuskan untuk keluar dan membangun usaha kecil-kecilan. “No, apa yang bisa saya bantu untuk membalas jasamu ?, engkau sudah bekerja ?, dimana ?, bagaimana kabar Ully ?” demikian Willy mencecar Sarno dengan pertanyaan. Sarno hanya tersenyum dan menitikkan airmata, ia tidak ingin menyakiti hati Willy. Saat ini, atas nama almahumah Ully yang meninggal saat melahirkan, Sarno dan kedua anak kembarnya yang masih kecil adalah pemegang 93.5% saham perusahaan tempat Willy bekerja dan beberapa grup perusahaan karena usaha kerasnya dan dia tetap tersenyum seperti saat ia berpamitan dengan Willy enam tahun lalu.

Manusia bisa berkehendak dan bertindak, tapi Tuhan punya rencanaNYA.

Enam tahun ?, Enam bulan ?, Enam pekan ?, Enam hari ?, Enam Jam ?, Enam menit ?, Enam detik ? secepat apakah DIA akan membalikkan kita semua, jika saya dan kita tak tahu diri ?. I am sure from now on, we all shall appreciate any kind of human in this world.

Written by Jalu, Yepa / “PR”

Tuan KS yang sudah memasuki usia kepala tujuh alias tujuh puluhan mengaku sangat khawatir kehilangan cinta, perhatian, bahkan diri istri keduanya yang relatif masih muda. Gara-garanya bukan sang istri telanjur melirik pria lain, tapi karena ia tidak lagi “sejantan” dulu yang katanya sanggup melakukan hubungan intim 9 kali dalam sehari!.

Sekarang KS mengaku paling banter hanya mampu melakukannya sebulan dua kali. Itu pun sering diikuti dengan berbagai keluhan sesudahnya. Yah sakit pinggang lah, capek lah dll. “Padahal katanya di usia tiga puluhan seorang wanita sedang hot-hot-nya dalam berhubungan intim. Saat ini saya tidak bisa mengimbangi ‘hasrat’ istri saya itu,” keluh pensiunan pegawai negeri itu.

Akibatnya KS sering merasa sangat cemburu jika istrinya pergi ke luar rumah. Ia juga langsung emosi jika sang istri melakukan kesalahan yang kadang-kadang sebenarnya bukan sesuatu yang prinsip. “Saya juga tidak mengerti mengapa kok sekarang saya seperti itu. Apakah karena usia yang sudah semakin tua ?. Gejala-gejala yang saya rasakan persis dengan kondisi istri pertama saya ketika memasuki masa menopause. Apakah memang pria juga mengalami masa seperti itu ?” tanya KS kepada sahabatnya.

Menanggapi pertanyanyan Tuan KS, Direktur RSU Cibabat, Cimahi Dr. H. Hanny Ronosulistyo,SpOG, MM menyatakan selama bertahun-tahun masyarakat memandang menopause hanya terjadi pada wanita. Ternyata rasa lelah, muka terasa panas, kemandulan, ketidak seimbangan psikis yang merupakan tanda tanda menopause wanita dilaporkan juga terjadi pada pria.

Selama ini tanda-tanda seperti ini hanya dianggap sebagai tanda penuaan dan tidak terlaporkan. Belakangan ini semakin banyak pria mengeluhkan gejala-gejala ini, sehingga makin banyak diteliti dan dilaporkan bahwa ternyata “menopause pria” tersebut memang ada. Meskipun demikian kontroversi mengenai menopause pria, atau banyak yang menyebutnya dengan istilah andropause masih terus berlanjut.

Lebih lanjut Hanny menjelaskan proses reproduksi pria sangat berbeda dengan wanita. Alat reproduksi pria tidak berhenti seperti pada wanita. Buktinya pria berusia sangat sepuh juga tetap bisa menghasilkan sperma yang baik dan mempunyai keturunan. Di Afrika kepala kepala suku dilaporkan mempunyai banyak istri, dan mempunyai banyak anak walaupun pada usia sangat tua. Tidak dilaporkan adanya penuaan pada proses pembentukan spermatozoa. Dan dilaporkan pria masih dapat melakukan “kewajiban seksual” dengan baik pada usia di atas 60 tahun, seperti waktu mereka berusia 20 tahunan.

Suatu proses alamiah berlaku pada seluruh sel di dalam tubuh manusia. Kesempurnaan sel-sel tubuh manusia meningkat dari masa remaja sampai menjelang usia 30 tahun. Setelah usia tersebut semua kegiatan faal tubuh akan menurun secara bertahap. Hal ini sangat mudah kita lihat pada kelompok manusia yang sangat menggunakan kemampuan tubuhnya, misalnya atlet olah raga.

Sebaliknya pada usia tersebut secara ekonomi orang sudah mulai menapak ke daerah kemapanan, peningkatan kinerja dan intelektualitas disertai keberhasilan-keberhasilan. Hal itu menyebabkan pria tidak mau mengakui “penurunan ” alamiah di sektor fisik. Banyak di antara mereka berusaha menutupi “kelemahan”-nya dengan berbuat seolah-olah mereka masih perkasa seperti waktu muda, dengan cara melakukan berbagai aktivitas kawula muda. Misalnya bersepeda motor besar. Dengan bergaya ugal-ugalan seperti anak muda, mereka dengan kendaraannya yang berharga ratusan juta (yang tidak akan mungkin terjangkau oleh kawula muda kebanyakan ) bergaya “hell angels” menutupi kenyataan alamiah tubuhnya.

Penurunan di bidang seksual lebih banyak disebabkan karena penurunan fungsi sel seluruh tubuh secara keseluruhan. Untuk menutupi kenyataan ini, maka banyak pria-pria “mapan” bergaya anak muda, dalam arti berpakaian, bergaul (diskotek, bahasa, gaya) bahkan dengan berpacaran dengan ABG (anak baru gede-red). Mereka berusaha memenangkan kompetisi dengan pria muda dengan mengandalkan kelebihannya di bidang ekonomi. Masalah gengsi menjadi kembali penting seperti masa remajanya, bahkan ada seorang kawan yang berpoligami untuk menutupi “keperkasaannya” di masa muda, padahal ternyata yang bersangkutan sudah terkena penyakit kencing manis dan impotensi.

Jadi kita dapat mengambil kesimpulan sederhana, bahwa proses pubertas kedua terjadi karena adanya denial atau penolakan psikis terhadap hukum-hukum alam dengan mengemukakan keberhasilan di bidang lainnya.

Proses selanjutnya dari pubertas kedua ini adalah andropause. Proses ini terjadi sangat berlawanan secara psikologis. Kalau yang pertama tidak mau mengakui kelemahan fisiknya dengan berbuat berlawanan arah, maka pada menopouse pria justru pria mengedepankan kelemahan dan gejala-gejala fisiknya untuk menjadi alasan dari segala kegagalannya. Keduanya merupakan pertanda ketidakmapanan kepribadian yang bersangkutan.

Istilah andropause asal mulanya merupakan padanan dari menopause pada wanita. Dengan bertambahnya umur seorang pria, dapat timbul sekumpulan gejala yang dihubungkan dengan menurunnya kadar hormon testosteron, oleh karena itu dinamakan andro (pria)-pause. Sebenarnya istilah ini tidak terlalu tepat karena walaupun telah berusia lanjut, produksi spermatozoa terus berlangsung walaupun dalam jumlah yang lebih sedikit. Jadi tidak terjadi penghentian (pause) dalam arti yang sesungguhnya.

Selain itu proses menurunnya kadar testosteron dan munculnya gejala andropause berlangsung demikian perlahan, dibandingkan menopause, sehingga sering tidak dikenali. Terlepas dari tidak tepatnya istilah andropause, gejala itu memang ada dan memerlukan perhatian untuk ditangani.

Penelitian di negara-negara barat menunjukkan bahwa 10-15% pria mulai mengalami andropause pada usia 60 tahun, sedangkan 54% pria menunjukkan gejala andropause pada kelompok umur 60-90 tahun. Dengan bertambahnya angka harapan hidup, maka jumlah penderita gejala andropause akan meningkat dengan pesat.

Datangnya andropause sangat dipengaruhi oleh hormonal seseorang. Boleh jadi di usia puncak karier atau masa kemapanan muncul, sebut saja usia 45 tahun. Dan biasanya akan sangat mengganggu, karena laki-laki biasanya bekerja.

Di saat muncul gejala-gejalanya akan timbul rasa kehawatiran. Menurut psikolog klinis, Dr. Elmira N. Sumintardja, seorang penderita tidak akan mengenali gejala yang sesungguhnya bahwa ia sedang memasuki masa andropause.

Sehingga jalan keluar untuk mengatasi keluhan fisik tersebut penderita biasanya mengonsumsi suplemen. Padahal reaksi suplemen hanya efek sesaat, karena gejala andropause akan muncul lagi sepanjang periode andropause. “Pemakaian suplemen atau obat-obatan pemicu aktivitas yang menjadi konsumsi rutin justru bisa membahayakan. Misalnya obat kuat atau suplemen untuk menambah vitalitas kerja,” kata Elmira.

Lebih lanjut Elmira menjelaskan, bila usia sudah menjelang andropause maka harus waspada ketika muncul gejala emosional yang tiba-tiba dan tidak biasa. Misalnya cepat merasa sedih atau marah yang tak bisa dikendalikan, padahal itu bukan karakter yang biasa muncul. Munculnya masalah-masalah kelainan psikologis, sekali lagi ditekankan bukan karena dia dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya, tapi oleh biologis yang berubah. “Dan memang akan lebih rentan bila kondisi psikologis juga sedang buruk,” tandasnya.

Lalu bagaimana sebenarnya gejala-gejala andropause itu ?

Menurut Elmira, beberapa gejala dapat timbul sekaligus dengan derajat keparahan yang berbeda-beda. Seperti halnya menopause, gejala ini lebih cenderung faali, namun karena penderita tak menyadari sebagai gejala datangnya andropause, berakibat pada beban psikologis yang mengganggu pikirannya. “Penderita akan bertanya-tanya, kenapa kok fisik saya berubah. Apakah saya mulai penyakitan, jantung, ginjal, atau gejala-gejala penyakit lain ?. Karena tidak dicarikan solusi sesuai dengan sumber sakitnya, akhirnya berdampak pada tekanan psikologis,” imbuhnya.

Selain itu, menurut Elmira, dapat terjadi perubahan emosional seperti mudah marah (uring-uringan), dan depresi. Dan dapat pula diikuti dengan menurunnya kemampuan intelektual, sakit kepala atau pusing, rasa gerah akibat suhu tubuh naik tiba-tiba dalam waktu singkat dan mengeluarkan keringat berlebihan, serta mudah lelah.

Ini disebabkan menurunnya kekuatan otot, disertai dengan nyeri otot atau nyeri pinggang. Testosteron berpengaruh terhadap perkembangan otot sehingga dengan menurunnya kadar testosteron massa otot akan mengecil dan kekuatannya akan berkurang. “Kadang-kadang gejala-gejala itu menjadi ciri khas selama kurun 5-10 tahun sebagai masa berlangsungnya andropause atau masa gonjang-ganjing. Hal ini akan menjengkelkan bila tidak dikenali sebagai gejala andropause, jadi akan berdampak pada psikologis,” kata Elmira.

Sementara itu dalam suatu kesempatan seminar dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.OG mengungkapkan, saat ini sudah dikembangkan suatu bentuk terapi yang efektif dan tidak menimbulkan rasa sakit bagi para pria yang mengalami gejala andropause. Terapi ini dikenal dengan nama Hormon Replacement Therapy, yakni mengganti hormon yang hilang.

Untuk mengetahui dengan pasti hormon apa yang perlu ditambahkan, sebelum melaksanakan terapi perlu dilakukan tes laboratorium terlebih dulu. Testosteron adalah hormon yang paling berperan dalam terjadinya andropause. Kadarnya yang rendah dalam darah sangat memengaruhi kemampuan seksual serta vitalitas pria. Pemberian testosteron dapat dilakukan melalui oral (pil, kapsul), suntikan, krim untuk pemakaian, patch (tempelan di kulit), dan dalam bentuk permen yang diletakkan di bawah lidah.

Obat oral, dalam bentuk pil atau kapsul ini akan melewati metabolisme di hati sehingga kadarnya dalam darah tidak mencukupi. Yang biasa digunakan adalah Testosteron Undecanoat, yaitu testosteron ester yang tidak membahayakan hati dan efektif dalam meningkatkan kadar testosteron sampai kadar normalnya.

Suntikan (injeksi). Biasanya masa kerjanya lama (long acting). Kadar maksimum dalam darah dicapai pada hari ketiga setelah penyuntikan, dan akan hilang secara berangsur-angsur setelah 10 sampai 14 hari. Injeksi ini, walaupun agak sakit penyuntikannya, telah terbukti meningkatkan gairah seks, fungsi seksual, tenaga, kekuatan tulang, dan mood pada pria yang mengalami kekurangan androgen.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian pada pria yang mendapatkan terapi testosteron adalah efek samping pada hati, keadaan lemak darah dan penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), prostat, gangguan tidur, dan perilaku sosial serta emosional.

Menurunnya gairah seksual dan kemampuan ereksi, menurut Boyke sering dianggap sebagai konsekuensi logis dari usia lanjut. Hal ini tidak seluruhnya benar. Gairah seksual memang dapat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan maupun budaya. Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan saat berhentinya aktivitas seksual dan tampaknya hal ini dipengaruhi oleh keterbukaan masyarakat terhadap masalah seksual. Makin terbuka suatu masyarakat, makin lambat berhentinya aktivitas seksual.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.